The Imitation Game

Enigma“…Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… hollow…”

Alan Turing meyakini hal ini berdasarkan pengalaman masa kecil dan remajanya ketika semua temannya menganggap dirinya tidak normal dan kerap melakukan kejahilan dan kekerasan kepadanya. Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan itulah yang membentuk karakter Alan menjadi seorang jenius yang penyendiri dan anti sosial.

Film The Imitation Game memang bercerita tentang Alan Turing (diperankan oleh Benedict Cumbercatch), seorang jenius ahli matematika di masa perang dunia II, dalam usahanya meretas mesin pengkode Jerman bernama Enigma. Jika Alan mampu meretas Enigma maka pihak sekutu akan bisa menerjemahkan pesan rahasia militer Jerman sehingga sekutu bisa melakukan antisipasi terhadap rencana serangan Jerman setiap hari.

Pesan untuk armada perang Jerman disiarkan setiap pagi dalam bentuk kata-kata dalam bahasa Jerman yang sebenarnya merupakan kata-kata sandi untuk menyamarkan perintah penyerangan, koordinat serangan, dan berbagai informasi lainnya. Pihak intelijen Inggris berhasil mendapatkan satu mesin Enigma dan berhasil mengintersep pesan Jerman setiap hari, tetapi ini saja tidak cukup karena mereka tidak berhasil menerjemahkan pesan-pesan tersebut.

PM Inggris Churchill membentuk proyek rahasia dengan satu team khusus yang bertugas untuk meretas Enigma dan menerjemahkan kata sandi militer Jerman, dan diisi oleh para jenius ahli matematika dan pengkodean dari seluruh Inggris dan dipimpin oleh Commander Denniston. Alan Turing, seorang jenius yang arogan dari universitas Cambridge datang menemui Denniston untuk mendaftar dan interviu menjadi anggota penerjemah Enigma. Arogansi dan percaya diri Alan yang terlalu tinggi hampir membuatnya gagal masuk dalam team.

Alan akhirnya masuk dalam team tetapi tidak disukai oleh anggota team yang lain karena sifatnya yang arogan dan anti sosial. Denniston hampir saja memecat Alan tetapi Alan menulis surat yang meyakinkan kepada Churchill sehingga bukan saja Alan tidak jadi dipecat, malahan dia diangkat oleh Churchill untuk memimpin team khusus tersebut. Alan kemudian merekrut tambahan personnel dengan mencari orang-orang jenius dari seluruh pelosok Inggris dengan menggunakan cara seleksi yang unik yaitu dengan menggunakan tes mengisi Teka-Teki Silang. Dari hasil seleksi terjaring jenius perempuan Joan Clarke (diperankan oleh Kiera Knightley), yang walaupun jenius tetapi sangat manusiawi dan sosial, bertolak belakang dengan Alan. Joan juga yang akhirnya berhasil sedikit mencairkan arogansi Alan sehingga ia bisa diterima oleh anggota team lainnya.

Alan dan team nya sesungguhnya memang melakukan pekerjaan yang sangat tidak mungkin yaitu menerjemahkan kode rahasia dengan berjuta-juta kemungkinan pada setiap pesan (tepatnya 159 million million million possibilities) karenanya, berbeda dengan anggota team lainnya, Alan berkeyakinan bahwa pekerjaan tersebut hanya bisa dilakukan oleh sebuah mesin. Alan kemudian mendesain sebuah mesin penerjemah Enigma dan meminta dana sebesar 100,000 US Dollar, jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Ketika dana diterima dan mesin tersebut akhirnya bisa terwujud, ternyata mesin tersebut masih belum mampu menyelesaikan masalah. Input kata-kata sandi yang dimasukkan ke dalam mesin tersebut menghasilkan proses kontinu yang tidak ada akhirnya pada mesin tersebut. Sementara saat itu Inggris mengalami tekanan besar dari Jerman, armada laut Inggris kerap disergap oleh kapal selam U-boat Jerman dan kota London dibombardir oleh pesawat-pesawat pembom Luftwaffe. Denniston marah dan hampir saja menghancurkan mesin buatan Alan kalau saja Alan tidak dibela oleh rekan satu team nya. Alan dan team nya kemudian diberikan tenggang waktu satu bulan untuk menyelesaikan masalah, dan ide perbaikan akhirnya muncul tak terduga hasil obrolan di bar dengan seorang operator telepon.

Film Imitation Game walaupun memakai setting Perang Dunia II bukanlah film perang biasa dengan hingar bingar dentuman meriam dan rentetan senapan mesin, walaupun di beberapa bagian film disajikan gambaran London yang luluh lantak dibom Jerman dan juga gerak maju tank-tank Jerman melindas daratan Eropa. Bendict Cumbercatch jelas merupakan pemeran yang tepat sebagai Alan Turing, apalagi dia sudah terbiasa berperan sebagai seorang jenius dalam serial televisi Sherlock dimana dia berperan sebagai detektif cerdas Sherlock Holmes. Raut muka pemikir yang selalu berkerut atau tingkah menyebalkan seoarang jenius bukanlah hal baru buat Cumbercatch. Sebaliknya, senyum khas gigi gingsul Kiera Knightley justru kelihatan terlalu masa kini dan agak kurang menyatu dengan setting tahun 40an.

Film ini lebih bercerita tentang sisi drama kehidupan Alan Turing, yang di masa remajanya dimusuhi oleh teman-temannya karena sifatnya yang aneh. Satu-satunya teman Alan adalah Christofer yang pernah menyelamatkan Alan ketika dia dijahili oleh teman-temannya dengan cara dikubur di bawah lantai kelas. Bersama Christofer – namanya kemudian diabadikan dalam nama mesin ciptaannya – Alan mulai menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kata-kata sandi dan bagaimana menerjemahkannya.  Christofer kemudian meninggal mendadak karena penyakit yang dideritanya mengakibatkan Alan mengalami tekanan yang sangat besar dan akhirnya dia benar-benar menjadi penyendiri dan anti sosial, sampai kemudian dia lulus dari Cambridge dan bekerja dalam team peretas Enigma.

Pertemuan Alan dengan Joan Clarke lah yang kemudian sedikit merubah Alan. Joan mengajari Alan bahwa untuk mendapatkan simpati dan bantuan dia harus lebih dulu berbuat baik pada orang lain. Joan juga lah yang meyakinkan Alan bahwa dengan ketidaknormalannya itulah Alan bisa berkontribusi kepada orang banyak, kontribusi yang justru tidak bisa dilakukan oleh orang normal.

“…Do you know, this morning I was on a train that went through a city that wouldn’t exist if it wasn’t for you. I bought a ticket from a man who would likely be dead if it wasn’t for you. I read up, on my work, a whole field of scientific inquiry that only exists because of you. Now, if you wish you could have been normal… I can promise you I do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren’t…”

Alan adalah orang aneh yang tidak terbayangkan oleh orang lain, tetapi hanya orang seperti Alan lah yang bisa menghasilkan sesuatu yang juga tidak terbayangkan oleh orang lain.

“…Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can  imagine…”

Film ini tidak hanya menceritakan perjuangan Alan dan teman-temannya meretas Enigma, tetapi juga persoalan-persoalan lain yang dihadapi Alan seperti tuduhan sebagai agen komunis dan penganut homoseksualitas. Ketika akhirnya mesin ciptaan Alan berfungsi dengan baik pun, Alan tetap harus merahasiakan keberhasilannya agar tidak bocor ke pihak Jerman dan hanya menggunakan mesinnya untuk memecahkan pesan sandi untuk kejadian yang secara probabilitas lebih menguntungkan Inggris dan sekutunya. Hal ini membuat Alan makin kelihatan sebagai monster bahkan dia seakan playing God karena kadang membiarkan sekutu mengalami kekalahan yang mengakibatkan kematian ratusan tentaranya, demi mencapai probabilitas lebih baik dalam memenangkan perang secara keseluruhan. Pada akhirnya Alan melihat perang tidak dimenangkan oleh para jendral di medan perang, tetapi ditentukan oleh para ahli probabilitas.

Alan Turing meninggal beberapa tahun setelah perang berakhir dalam masa menjalani hukuman karena kasus homoseksualitas. Mesin peretas Enigma ciptaannya dan jasa-jasanya tetap dirahasiakan sampai 50 tahun setelah perang berakhir. Tetapi para ahli menyimpulkan bahwa berkat mesin Alan lah Perang Dunia II bisa diselesaikan 2 tahun lebih cepat dan jutaan orang terselamatkan. Pesan penutup film menjelaskan kontribusi luar biasa Alan Turing tidak hanya terhadap penyelesaian perang, tetapi juga penemuan-penemuan teknologi sesudahnya.

“…His machine was never perfected, though it generated a whole field of research into what became known as “Turing Machines”. Today we call them “computers”….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: