Exodus: Gods and Kings

exodus_gods_and_kings_movie-wide

Tidak biasanya saya ingin cepat-cepat nonton film yang baru diputar beberapa hari di bioskop. Kebiasaan saya justru nonton film pada saat film itu sudah tidak populer lagi, alasan utama saya adalah saya lebih suka nonton di bioskop yang sepi pengunjung, enak bisa pindah-pindah tempat duduk. Tapi kali ini berbeda. Selain ini adalah film epic yang merupakan kesukaan saya, film Exodus: Gods and Kings yang bercerita tentang Nabi Musa (diperankan oleh Christian Bale) ini saya takut bernasib sama dengan Noah, film tentang Nabi Nuh, yang dilarang diputar di sini.

Film Exodus ini memang bercerita tentang Moses atau Nabi Musa, dalam kisahnya membebaskan Bani Israil dari penindasan Firaun di Mesir sebagaimana dikisahkan dalam The Book of Exodus, salah satu kitab Bani Israil. Agak berbeda dengan kisah Nabi Musa yang lain, kali ini cerita tidak dimulai saat Musa masih bayi seperti dalam film lainnya, melainkan dalam film ini kisah dimulai pada saat Musa sudah dewasa dan menjadi seorang jendral andalan Firaun, dan bersahabat erat dengan putra mahkota Ramses II.

Ada rasa kecewa ketika film baru dimulai yang muncul adalah tokoh Firaun Seti dengan suara seperti di dubbing, putra mahkota yang terlihat genit dengan eye liner terlalu tebal, dan Musa dengan rambut kelimis belah pinggir. Saya fikir jangan-jangan ini film ala soap opera atau mungkin sekedar film berbiaya minimalis. Tapi kekecewaan saya langsung sirna begitu scene berikutnya menampilkan Musa dan Ramses II sang putra mahkota Mesir bersama-sama memimpin pasukan mesir menyerbu pasukan Hittite yang ditampilkan dalam satu adegan yang epic lengkap dengan pasukan kereta perang chariot, yang pada masa itu merupakan ujung tombak dalam menerjang barisan pasukan pihak lawan. Dalam perang ini dikisahkan bagaimana Musa menyelamatkan nyawa Ramses dan karenanya Ramses merasa hutang budi kepada Musa.

Walaupun seorang jendral brilian yang dipercaya penguasa Mesir, Musa sebenarnya merasa simpati pada penderitaan Bani Israil yang hidup sebagai budak di Memphis, ibukota Mesir saat itu. Rasa simpati itu makin menguat saat Musa berkunjung ke kota Pithom untuk mengaudit seorang gubernur korup bernama Hegep, saat itulah Musa melihat kesewenang-wenangan bangsa Mesir dan penderitaan Bani Israil yang luar biasa. Di kota Pithom juga lah Musa bertemu dengan the Elders, para tetua Bani Israil, dari mereka lah Musa mendapat cerita bahwa Musa sendiri adalah seorang dari Bani Israil, dibuang oleh ibunya ke sungai Nil sesaat setelah dilahirkan karena takut dibunuh Firaun, bayi Musa kemudian justru dipelihara di istana oleh istri Firaun dan diasuh oleh kakanya sendiri, Miriam. The Elders juga bercerita bahwa Musa lah yang diramalkan akan menjadi pemimpin Bani Israil. Musa tidak langsung percaya cerita itu walaupun begitu cerita itu terus mengganggunya sampai dia kembali ke Memphis lagi.

Sekembalinya Musa ke Memphis, tidak lama berselang Firaun Seti meninggal dan digantikan oleh putranya, Ramses. Ramses kemudian mendengar cerita tentang Musa tersebut dari Hegep – yang mendengar cerita itu juga dari mata-matanya di Pithom. Ramses murka dan kemudian mengusir dan mengasingkan Musa dari Memphis karena dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat Musa pergi ke pengasingannya itulah Miriam dan istri Firaun bercerita bahwa benar Musa adalah seorang dari Bani Israil.

Dalam pengelanaannya Musa bertemu dengan gadis cantik Zipporah yang kemudian dinikahinya dan mendapatkan seorang putra bernama Gershom. Musa tinggal bersama keluarganya dan menjadi gembala kambing. Suatu hari hujan turun sangat lebat, Musa yang sedang mengejar kambing-kambingnya ke bukit terkena longsoran batu dan terkubur nyaris seluruh tubuhnya oleh lumpur dan batu-batuan. Pada saat terkubur dan tidak bisa bergerak sama sekali itulah muncul Tuhan, dalam bentuk seorang anak kecil, yang mengajak Musa bicara dan mengangkatnya sebagai wakilnya di bumi.

Setelah peristiwa di bukit itu Musa merasa mendapat pencerahan dan kemudian pergi ke Pithom dan Memphis untuk menggalang kekuatan Bani Israil. Musa melatih Bani Israil untuk berperang tetapi Tuhan kemudian tidak sabar dan menurunkan bencana kepada bangsa Mesir dalam bentuk serangan buaya di sungai Nil, air sungai berubah menjadi darah, penyakit kulit, serta serangan lalat, katak, dan belalang. Musa hanya bisa menyaksikan bencana-bencana tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa. Ramses tidak bergeming dengan semua bencana tersebut sampai akhirnya Tuhan menurunkan bencana yang paling dahsyat yaitu dalam satu malam semua anak laki-laki bangsa Mesir, termasuk anak bayi Ramses, mati mendadak. Ramses dalam kesedihan luar biasa kemudian membiarkan semua orang Bani Israil pergi dari Mesir.

Musa memimpin 400 ribu Bani Israil eksodus dari Mesir menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan. Setelah beberapa hari kesedihannya reda, Ramses berubah pikiran dan memimpin sendiri pasukannya mengejar Bani Israil. Musa memimpin Bani Israil melewati gurun dan gunung, tetapi perjalanan mereka terhenti karena terhalang oleh laut Merah, sementara pasukan Ramses yang mengejar sudah makin dekat dan siap menhancurkan mereka. Musa merasa frustrasi karena dia merasa dia sendiri lah yang membawa Bani Israil menuju kehancuran, sampai akhirnya turun mukjizat Tuhan yang membuat laut merah terbelah.

Seperti juga Noah yang dibintangi oleh Russell Crowe, film The Exodus: Gods and Kings ini juga terinspirasi oleh cerita dalam bible. Khusus untuk The Exodus ini, kelihatannya banyak adegan yang diangkat dari kitab-kitab Bani Israil. Saya sendiri tidak familiar dengan bible, karenanya saya pribadi mengambil referensi dari Al-Quran yang juga menceritakan kisah nabi Musa ini. Dari pandangan agama, kelihatannya banyak hal yang lumayan kontroversial dari The Exodus, bahkan rasanya lebih “kurang ajar” daripada Noah, makanya agak mengherankan kalau Noah dilarang beredar tetapi The Exodus lolos. Penggambaran Tuhan sebagai anak kecil perajuk berumur kurang lebih 10 tahun rasanya adalah hal paling kontroversial dalam film ini.  Tidak jelas apa alasan sutradara Ridley Scott memilih anak kecil sebagai personifikasi Tuhan, yang jelas pilihan ini sangat potensial mengundang kritik bahkan protes dari umat beragama samawi, dan pilihan ini justru memberikan kesan seakan-akan bencana hebat yang dialami bangsa Mesir sekedar karena Tuhan sedang ngambek dan bersikap childish. Atau memang ini yang mau ditunjukkan oleh Scott?

Sosok Musa yang awalnya digambarkan sebagai seorang warrior dan jendral perang ulung yang sangat percaya diri belakangan berubah menjadi sosok yang serba salah, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan Tuhannya. Dia bahkan terlihat useless, tidak berperan apa-apa dan tidak berbuat apa-apa ketika Tuhan menurunkan bencana silih berganti. Ini sangat bertentangan dengan sosok nabi Musa yang merupakan tokoh favorit saya sejak saya kecil, dimana dalm gambaran saya Musa adalah seorang nabi yang tough karena dia tidak hanya harus menghadapi Firaun dan pengikutnya, tapi dia juga harus mengajari Bani Israil, kaumnya sendiri yang penuh tipu muslihat dan sulit untuk diajak ke jalan yang benar. Karenanya nabi Musa tergolong dalam Ulul Azmi (bersama nabi Nuh, Ibrahim, Isa, dan Muhammad saw), yaitu nabi dan rasul yang memiliki tingkat kesabaran dan ketabahan yang sangat tinggi. Sosok Christian Bale yang jauh-jauh datang dari Gotham City juga tidak membantu, sebagian kritikus bahkan menganggap Bale terlalu bule untuk berperan sebagai Musa, yang mestinya diperkirakan berkulit agak gelap terbakar sinar matahari padang pasir Mesir. Menariknya lagi ada yang menganggap film ini terlalu “white” dan bahkan racist, tidak nampak aktor atau figuran berkulit agak gelap atau bahkan kulit hitam.

Yang menarik dari film ini adalah Scott seakan ingin memasukkan penjelasan ilmiah pada kejadian-kejadian di masa nabi Musa. Ada satu episode dimana seorang bangsawan Mesir mencoba untuk menjelaskan bahwa semua bencana yang terjadi di Mesir ada penjelasan ilmiahnya, misalkan sungai berwarna merah itu bukanlah darah tetapi tanah merah yang terangkat karena amukan buaya, kemudian ribuan katak keluar dari sungai karena lupan tanah merah itu mengakibatkan kekurangan oksigen. Kemudian pada saat Musa dan bani Israel sampai di tepi laut Merah, laut itu tidak digambarkan terbelah sebagaimana jelas-jelas dinyatakan dalam kitab suci. Pada film ini diperlihatkan laut Merah yang pada malam hari terlihat dalam dan luas dengan ombak menggelora, pada pagi hari perlahan-lahan menjadi surut bahkan di beberapa bagian mengering sehingga bisa dilewati oleh Musa dan pengikutnya. Dan ketika bani Israel berhasil menyeberang dan Ramses bersaman pasukannya yang mengikuti mereka sampai di tengah laut, tiba-tiba gelombang air laut yang tinggi menggunung datang menyapu mereka. Gambaran ini seakan-akan menunjukkan laut terbelah yang disebutkan dalam kitab suci itu adalah fenomena tsunami, dimana gelombang tsunami yang dahsyat biasanya diawali dengan air laut yang surut menjauh dari garis pantai. Saya sendiri sangat menyukai visual effect dari kejadian laut surut ini, tapi untuk kebenarannya tentu hanya bisa bilang Wallahu a’lam.

Sebagai penutup saya rasa tidak ada salahnya menonton film Exodus: Kings and Gods ini, hanya saja jangan berharap mendapatkan pencerahan teologi dari film ini. Jangan pula mencoba mencocokkan dengan ayat-ayat dalam kitab suci karena kelihatannya banyak sekali yang melenceng. Saran saya anggap saja sebagai sebuah film cerita biasa, atau paling tidak sebagai sebuah cerita sejarah, dan nikmati visual effect nya yang bagus dan mencekam, seperti pada saat serangan belalang dan katak. Mengerikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: