VIKING : Sworn Brother

sworn brotherSworn Brother adalah buku kedua trilogi Viking karya Tim Severin, melanjutkan kisah petualangan sang putra Odinn, Thorgils Leifsson. Buku pertama Odinn’s Child mengisahkan masa kanak-kanak dan remaja Thorgils dalam petualangannya mempelajari The Old Ways, perjalanannya dari Scotland ke Iceland, menetap di Greenland, ekspedisi ke Vinland di amerika utara, kembali lagi ke Iceland, sampai akhir perjalanannya di Ireland. Dalam buku kedua ini petualangan Thorgils berlanjut ke England, Norway, kembali lagi ke Iceland, kemudian memulai petualangan baru di pedalaman Finlandia, ke Rusia menelusuri sungai Dnieper sampai ke Konstantinopel.

Sworn Brother berawal di London. Thorgils yang dalam bagian akhir dari Odinn’s Child dibuang ke laut di Ireland (sebagai hukuman karena mencuri dari gereja) diselamatkan oleh nelayan dibawa ke Oarkney, Scotland, dan kemudian ikut rombongan penyair sampai ke London. Di London Thorgils terlibat percintaan yang sama sekali tidak main-main, yaitu dengan Aelfgifu, istri raja Inggris King Knut yang luar biasa cantik. Knut adalah keturunan Viking yang menjadi raja di Inggris dengan berhasil menyatukan bangsa Saxon dengan Norsemen (Danes dan Norway). Pernikahan Knut dengan Aelfgifu, putri seorang raja Saxon, adalah juga bertujuan politik untuk mengamankan kerajaannya. Perselingkuhan Thorgils dengan Aelfgifu bisa sangat membahayakan keduanya, sehingga demi untuk menghindari gosip istana akhirnya Thorgils ikut dengan rombongan Aelfgifu ke Northampton. Di sana Thorgils menjadi pelatih burung Spear Falcon, elang pemburu yang hanya hidup di Greenland, kampung halaman Thorgils.

Sekembalinya ke London dari Northampton, tetap untuk menghindari gosip istana, Aelfgifu menempatkan Thorgils di rumah seorang pembuat perhiasan dan uang koin kerajaan bernama Brithmaer. Thorgils kemudian menemukan bahwa ternyata Brithmaer berbuat curang dalam memproduksi uang koin yaitu dengan membuat koin palsu. Thorgils berseteru dengan Brithmaer yang membuatnya harus meninggalkan Inggris, pergi jauh dari Aelfgifu sang kekasih hati.

Dari Inggris Thorgils kemudian ikut pelayaran ke Norway, di mana di perjalanan dia bertemu dengan Grettir Asmundarson atau dikenal sebagai Grettir the Strong, seorang kriminal yang sedang menjalani masa hukuman diasingkan dari kampung halamannya di Iceland karena membunuh seorang petani. Grettir adalah seorang yang kasar dan kuat luar biasa, sehingga tidak ada orang yang mau dan bisa berteman dengan dia, kecuali kakak tirinya, Thorstein. Sesampai di Norway Grettir terlibat pembunuhan lagi, dan walaupun dia tidak bersalah Grettir diusir dari Norway oleh King Olaf.

Thorgils yang nyawanya sempat diselamatkan oleh Grettir dalam sebuah perkelahian kemudian berteman dan ikut dengan Grettir kembali ke Iceland walaupun masa hukuman Grettir belum berakhir. Di Iceland Thorgils berkesempatan juga untuk membalas jasa menyelamatkan nyawa Grettir sehingga kemudian Grettir mengangkatnya sebagai sworn brother, saudara yang terikat perjanjian darah (yaitu dengan cara bersalaman dengan telapak tangan yang masing-masing sudah dilukai sampai mengeluarkan darah) sampai mati.

Di Iceland Grettir terlibat pembunuhan lagi dan terpaksa menjadi pelarian lagi dikejar-kejar para musuhnya. Sementara itu Thorgils bertemu mantan guru spiritualnya Thrand (lihat Odinn’s Child) yang ternyata adalah bekas prajurit Jomsviking, pasukan Viking yang terkenal paling berani. Thorgils dan Thrand kemudian berlayar ke Jomsburg, tempat bermukim prajurit Jomsviking yang tersisa. Thorgils mengikuti Thrand menjadi prajurit Jomsviking yang kemudian bergabung dengan pasukan King Knut yang akan berperang dengan para pemberontak Danes. Tetapi ketika para Jomsviking berlayar ke Inggris di tengah jalan para pejuang Jomsviking dikhianati dan dibantai oleh pasukan Danes, semua tewas termasuk Thrand. Thorgils adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian, lagi-lagi berkat bantuan Odinn dewa penolongnya, selamat sampai ke Inggris dan menceritakan kisah pengkhianatan tersebut kepada King Knut sendiri.

Dari Inggris Thorgils kembali ke Iceland dan bertemu Grettir di tempat persembunyiannya di sebuah pulau terpencil. Grettir akhirnya berhasil dibunuh oleh musuhnya Thorbjorn Ongul dengan bantuan kutukan seorang penyihir yang membuatnya terluka dan menjadi sakit dan lemah sehingga mudah untuk dikalahkan.

Setelah Grettir tewas Thorgils memutuskan untuk pergi jauh dari Iceland, tujuannya adalah Miklagard, sebuah kota modern yang luar biasa besar nun jauh di selatan, kota yang juga dikenal sebagai Konstantinopel.

Perjalanan ke Miklagard sama sekali tidak mudah. Rute yang biasa ditempuh orang-orang dari utara adalah melalui jalur perdagangan lewat sungai Dnieper melalui daratan Rusia. Sebelum bisa bertemu dengan para pedagang tersebut Thorgils terlebih dulu pergi ke daerah Permia di Rusia, daerah terpencil yang sangat dingin yang hanya dihuni oleh suku Sabme (Sami), untuk mengumpulkan kulit rusa untuk diperdagangkan. Thorgils ternyata justru memutuskan untuk tinggal sementara dengan suku Sabme, mempelajari budaya mereka, berpindah-pindah pemukiman dari tenda-tenda sampai ke gua-gua, berburu dengan menggunakan ski, bahkan Thorgils jatuh cinta dengan Allba, putri seorang dukun Sabme bernama Rassa. Dari Rassa lah Thorgils banyak belajar tentang suku Sabme dan kepercayaan mereka, bahkan mengalami perjalan spiritual ke alam gaib.

Thorgils akhirnya dengan berat hati harus meninggalkan Alba dan suku Sabme untuk melanjutkan perjalanannya ke Miklagard. Dalam perjalanan tersebut Thorgils bertemu dengan prajurit Varangian, orang- orang Viking yang dijadikan pasukan elit pengawal Emperor di Konstantinopel. Thorgils nyaris terbunuh oleh seorang Varangian dan diselamatkan seorang pedagang Arab untuk kemudian dibawa ke Miklagard. Petualangan Thorgils sebelumnya telah membawanya ke kota-kota besar di utara seperti Dublin, London dan Nidaros, ibukota Norway, tetapi semua tidak ada artinya dibanding Miklagard. Semua yang ada di Miklagard sangat mempesona, mulai dari fenomena air laut selat Bosporus yang arusnya selalu bergerak searah seperti di sungai, panorama yang menakjubkan, sampai istana-istana, menara-menara, kubah-kubah emas dan gedung-gedung yang besar dan indah.

Ship Funeral at Kiev

Ship Funeral at Kiev

Buku kedua Sworn Brother ini tidak kalah menarik (atau mungkin lebih menarik) daripada buku pertama Odinn’s Child dimana petualangan Thorgils Leifsson berlanjut dari tempat-tempat paling terpencil di eropa sampai ke kota-kota besar di jaman abad pertengahan. Perjalanan Thorgils juga membuka wawasan kita akan berbagai kebiasaan, tradisi, kepercayaan dan pekerjaan dari berbagai suku bangsa pada masa itu, mulai dari para penyair di istana-istana, pelatih burung elang di Northampton, pemburu rusa dan beruang berski di Permia, pemakaman prajurit Varangian (ship funeral), sampai pertemuannya dengan pedagang Arab.

Seperti juga dalam Odinn’s Child, di buku kedua ini Thorgils juga diceritakan seringkali bersinggungan dengan  hal-hal yang berbau mistis, seperti ketika Grettir menjadi korban sihir, pembantaian prajurit Jomsviking yang diikuti kemunculan Valkyries, pertemuan Thorgils dengan Rassa dan lain-lain. Di buku ini juga Thorgils makin melihat kenyataan betapa pesatnya perkembangan penganut The White Christ, dimana raja-raja dan bangsawan-bangsawan di England dan Norway makin banyak yang menganut kristen, walaupun rakyatnya masih banyak yang menganut kepercayaan pagan menyembah dewa-dewa Saxon, Viking dan lainnya. Petualangan Thorgils di buku ini bahkan berakhir di tempat yang tidak disangka olehnya yaitu di konstantinopel, pusat kristen dunia.

“…But it was not the magnitude of the place that silenced me, nor its air of solid permanence, for I had carried a wondrous vision of the city in my head ever since Bolli Bollason had sung the praises of Miklagard, and I had promised Grettir to travel in his memory. The reason for my stunned amazement came from something else: the panorama of the city was dominated by a vast assembly of churches and oratories and monasteries, most of them built to a design that I had never seen before — clusters of domes surmounted by the cross-shaped symbol of the White Christ. Many of the domes were covered with gold leaf and glittered in the sunshine. I had totally failed to realise that my destination was the greatest stronghold of the White Christ faith on earth…” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: