The Scarlet Lion

Kisah-kisah tentang ksatria Inggris di abad pertengahan sudah banyak ditampilkan dalam novel-novel best seller dan film-film box office, dan mempunyai banyak penggemar sampai sekarang. Elizabeth Chadwick adalah salah satu pengarang yang sangat fasih dan konsisten menulis historical novel yang mengambil setting Inggris abad pertengahan. The Scarlet Lion adalah sekuel dari The Greatest Knight, salah satu master piece dari Ms Chadwick yang melanjutkan kisah William Marshall, the most chivalrous knight during medieval England.

Buku pertama, The Greatest Knight bercerita tentang masa muda William Marshall, sejak masa kanak-kanak disandera oleh King Stephen, tumbuh sebagai ksatria miskin luntang-lantung di Normandy, menjadi jagoan dalam tourney (pertandingan simulasi perang antara para ksatria berkuda), sampai menjadi orang yang paling dipercaya oleh Young King Henry dan terlibat perseteruan antara Henry dan Richard dengan ayah mereka, King Henry II. Di akhir dari buku pertama, walaupun sebelumnya Marshall berpihak kepada King Henry melawan Richard, Richard lah yang kemudian menikahkan Marshall dengan putri bangsawan terkemuka Isabel de Clare, dan mengangkat Marshall sebagai Earl of Pembroke. Marshal selalu menjadi kepercayaan baik di masa kekuasaan King Henry, Young Henry maupun Richard karena terbukti loyal dan konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan courtly manner. Kesetiaannya kepada Richard terbukti ketika adiknya, John, berusaha makar pada saat Richard pergi memimpin prajurit salib keJerusalem. William tetap berpihak pada Richard walaupun banyak mendapat intimidasi dari John.

Buku kedua, The Scarlet Lion, diawali dengan masa-masa indah pernikahan Marshal dan Isabelle ketika Inggris dipimpin oleh Richard le coeur de lion. Isabelle adalah putri Richard Strongbow, bangsawan dan kstaria legendaris yang wilayah kekuasaannya meliputi earldom dan county di Normandy, Inggris,Wales, bahkan Irlandia. Dengan menikahi Isabelle, maka Marshal menjadi pewaris wilayah tersebut dengan semua kekayaan dan masalah2 nya.

Masa-masa indah William dan Isabelle tidak lama, berlanjut dengan masa-masa sulit ketika Richard wafat dan digantikan oleh John. King John adalah tokoh antagonis terkenal dalam sejarah Inggris abad pertengahan, licik dan kejam bahkan terhadap pengikutnya sendiri. Tambahan lagi, William pernah beseteru dengan John ketika John mencoba menggulingkan Richard.

Naiknya John sebagai raja Inggris juga menimbulkan pemberontakan dan peperangan dengan King Philip dari Perancis yang mendukung Arthur, keponakan Richard, sebagai penerus tahta Inggris. Arthur kemudian ditangkap dan dibunuh oleh John, yang membuat Philip marah dan menyerang semua wilayah Inggris di Eropa daratan seperti Normandy, Anjou, dan sebagainya.

William Marshal adalah juga penguasa Longueville yang berada di wilayah Normandy dan berada di bawah ancaman Perancis. Kalau William ingin mempertahankan Longueville, maka dia harus bersumpah kepada Philip untuk tidak ikut berperang melawan Perancis. William setuju untuk bersumpah kepada Philip dan mengakibatkan John marah besar. Untuk melampiaskan amarahnya, John meminta William untuk meninggalkan anak sulungnya, namanya juga William, sebagai sandera di istananya, untuk jaminan ayahnya tidak membelot ke pihak Perancis.

Ketika William setuju untuk meninggalkan anaknya sebagai sandera, Isabel kecewa dan mengakibatkan pertengkaran hebat dalam keluarga mereka. Suasana bertambah kacau ketika John minta sandera anak kedua William dan Isabel pada saat mereka minta ijin John untuk pergi ke Irlandia mengurus properti mereka disana.

Seperti juga buku pertama yang menampilkan sosok kuat wanita bangsawan dalam diri Eleanor of Aquitane, buku kedua ini menonjolkan karakter Isabel de Clare, bukan hanya sebagai istri William Marshal, tetapi juga sebagai bangsawan yang paham liku-liku politik kerajaan. Isabel adalah profil wanita modern yang bisa menjadi counterpart bagi William dalam menghadapi tekanan2 politik dari King John dan antek2nya.

Ketika lambat laun hubungan Marshal dengan King John membaik, malapetaka muncul dengan terbunuhnya istri William, putra pertama Marshal, dalam keadaan hamil tua di puri milik Marshal sendiri di Gloucester. William Jr menduga King John sebagai dalang pembunuhan istrinya dan menyalahkan ibunya, Isabel, karena tidak mampu menjaga istrinya. William Jr yang marah kemudian memutuskan untuk bergabung dengan pemberontak melawan King John, yang berarti juga melawan ayahnya sendiri.

William sangat terpukul dengan membelotnya putranya ke pihak pemberontak. Sementara itu King John semakin terdesak setelah tentara Perancis dipimpin oleh Prince Louis mendarat di Inggris untuk mendukung kaum pemberontak melawan King John. Ketika peperangan dengan Perancis sedang seru-serunya, King John meninggal karena sakit yang tidak tersembuhkan. Sebelum meninggal, John menunjuk William sebagai Regent, care taker kerajaan, sampai putranya, Henry III, cukup dewasa untuk memimpin kerajaan.

Meninggalnya John di satu sisi melegakan bagi William dan Isabel, semasa hidupnya King John telah menjadi teror bagi keluarga mereka. Tetapi di sisi lain beban sebagai Regent sangat berat di saat kerajaan Inggris hampir bangkrut dan menghadapi gelombang serangan besar-besaran dari Perancis. Tetapi dengan kehebatannya dalam strategi perang, William berhasil mengalahkan Perancis dalam perang yang menentukan di Lincoln, dan menyelamatkan Inggris dari kehancuran.

William meninggal beberapa tahun kemudian karena penyakit yang sama yang diderita King John. William Marshal sampai sekarang dikenal sebagai figur ideal seorang chivalrous knight yang selalu menjunjung tinggi nilai2 kstaria kerajaan, loyal, istiqomah, dan memperjuangkan kebenaran walaupun berada dalam tekanan yang sangat besar.

Yang paling menarik dari buku ini tentu saja adalah intrik2 politik istana yang diceritakan dengan bagus sekali oleh Elizabeth Chadwick. Saya sendiri bahkan sangat menikamti dialog2 antar bangsawan yang sangat “high class”, luwes tapi penuh jebakan politik.

Satu hal yang agak mengecewakan adalah Ms Chadwick tidak banyak mengangkat kisah pembuatan Magna Charta, dokumen yang menjadi tonggak awal demokrasi barat moderen, di mana William Marshal disebut sebagai salah satu yang terlibat di dalamnya.

Overall, this is a great book and really worth reading, sebagai info tambahan buku ini, juga buku pertama The Greatest Knight, mestinya bisa ditemukan di toko buku Periplus atau Kinokuniya di Pondok Indah Mall atau mall-mall lainnya di Jakarta. Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: