War Horse

War Horse adalah film yang diangkat dari novel anak-anak dengan judul yang sama, dan dari judulnya mudah ditebak berkisah tentang petualangan seekor kuda dalam peperangan, tepatnya semasa Perang Dunia I. Steven Spielberg yang selama ini lebih kita kenal sebagai produser film science fiction, menggarap film ini dengan apik dengan mengedepankan drama anak manusia dalam bingkai perang dunia yang memutarbalikkan nasib mereka.

Awalnya film ini tidak terlalu membangkitkan antusiasme saya, lebih berdasarkan stereotip bahwa film tentang binatang adalah film untuk anak-anak. Tertarik dengan nama besar Spielberg dan background Perang Dunia I – sebelumnya belum banyak film tentang PD I yang berkesan buat saya – saya coba untuk menikmati film ini.

Film ini diawali dengan kisah persahabatan Albert Narracott, seorang remaja desa di daerah Devon, Inggris, dengan Joey, seekor kuda Thoroughbred – kuda hasil persilangan ras kuda-kuda terbaik, menghasilkan kuda yang bertubuh tinggi besar dan kuat, yang biasa dipakai sebagai kuda pacuan. Layaknya kuda pacuan, Joey adalah kuda yang sulit diatur dan sebetulnya bukanlah kuda yang tepat untuk dipakai di pertanian. Ted, Ayah Albert, seorang veteran perang Boer di Afrika Selatan, terlanjur jatuh cinta dengan Joey dan rela membeli dengan harga mahal walaupun sebetulnya dia sedang butuh uang untuk membayar tagihan sewa rumahnya.

Ketika akhirnya Albert berhasil menjinakkan dan melatih Joey, hasil panen kebun yang digarap oleh Albert dan Joey menjadi tidak berarti ketika hujan badai dalam waktu semalam menghancurkan kebun mereka. Di saat bersamaan, lonceng di kota berbunyi menandakan Inggris dalam kondisi perang dengan Jerman, lonceng yang sama akan berdentang lagi hanya jika perang telah berakhir nantinya. Ted tidak punya pilihan lain selain menjual Joey kepada pasukan kavaleri Inggris, dan Joey menjadi milik Captain James Nicholls. Dimulailah petualangan Joey sebagai kuda perang, berpasangan dengan kuda perang lainnya bernama Topthorn.

Di medan perang Perancis, Joey berganti kepemilikan dari Captain Nicholls yang tewas ketika pasukan kavalerinya dijebak artileri Jerman ke tangan dua orang remaja kakak beradik tentara Jerman, Michael dan Gunther. Tidak rela adiknya Gunther berangkat ke garis depan, Michael membawa Joey dan Topthorn menyusul Gunther dan mengajaknya kabur meninggalkan pasukan Jerman. Kedua remaja tersebut tidak berhasil kabur jauh, dan akhirnya tertangkap dan ditembak mati karena desersi. Joey dan Topthorn kemudian beralih kepemilikan lagi, kali ini ke tangan Emilie, seorang gadis yatim piatu yang tinggal menyendiri bersama kakeknya. Ketika pasukan Jerman melewati tempat tinggal Emilie, mereka menemukan kedua kuda tersebut dan merampasnya dari Emilie. Joey dan Topthorn kemudian dijadikan kuda penarik peralatan artileri Jerman, pekerjaan yang sangat berat yang banyak mengorbankan nyawa kuda.

Beberapa tahun jalannya PD I akhirnya membawa nasib mempertemukan kembali Joey si kuda perang dan pemilik pertamanya Albert Narracott, yang akhirnya bergabung juga dengan pasukan infantri Inggris dalam perang di daratan Perancis ini. Albert yang sempat buta akibat terkena bom gas Jerman, masih bisa merasakan kehadiran Joey yang terluka parah di dekatnya, dan siulan burung hantu yang digunakan Albert untuk memanggil Joey dulu saat di pertanian lah yang akhirnya mempertemukan mereka.

Petualangan Joey di medan PD I diceritakan dengan sangat menarik, karena mampu menonjolkan sisi kemanusiaan di tengah berkecamuknya perang yang kejam. Sangat menarik untuk melihat konflik yang dialami oleh para pemilik Joey yang terus berganti-ganti, dari ambisi seorang kapten muda yang kandas di awal perang, pemuda tentara Jerman yang galau, sampai kisah pilu gadis yatim Emilie. Gambaran horor PD I juga ditampilkan dengan memikat oleh Steven Spielberg, dengan setting perang parit tipikal PD I, medan perang kawat duri dan kubangan, hujan deras dan desingan peluru mesin perang Jerman, tak terkecuali bom gas yang mematikan, semua mengingatkan kita betapa mengerikannya dunia yang dilanda perang, sampai akhirnya di akhir film hanya satu harapan kita…that there will be no war, and let the mankind – and horses too – live in peace til the end of time.

2 responses to this post.

  1. Posted by egi on May 29, 2012 at 5:46 pm

    Nice read…🙂

    Reply

  2. Posted by Gilang on May 29, 2012 at 7:36 pm

    Nice movie too

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: