Killing Rommel

Killing Rommel adalah buku ketiga karangan Steven Pressfield yang saya baca. Buku Pressfield yang pertama kali saya baca adalah The Gates of Fire, kisah tentang King Leonidas dan segelintir prajurit Sparta yang dengan heroik mempertahankan celah Thermopylae dari serbuan sejuta orang pasukan Persia, kisah yang sama yang sukses difilmkan dengan judul “300”. The Gates of Fire adalah buku yang sangat berkesan dan termasuk salah satu buku yang bikin saya keranjingan akan Historical Fiction.

Buku kedua yang saya baca adalah The Afghan Campaign, cerita tentang invasi Alexander the Great ke tanah Afghanistan, buku yang ternyata tidak terlalu greget tidak seperti The Gates of Fire.

Walaupun kecewa dengan The Afghan Campain, tidak sedikit pun ada keraguan dalam diri saya untuk langsung membeli buku yang dengan jelas terpampang Steven Pressfield sebagai pengarangnya ketika sedang dalam perjalanan dinas dan kebetulan berkunjung ke sebuah toko buku di Manama, Bahrain. Yang paling menarik bagi saya untuk membeli buku itu adalah keingintahuan bagaimana Mr. Pressfield yang sebelumnya setahu saya punya spesialisasi bercerita tentang Yunani di masa 500 BC, sekarang menulis tentang World War II, hampir 2000 tahun setelah eranya Leonidas dan Alexander.

Killing Rommel mengambil setting Afrika Utara tahun 1942. Saat itu Perang Dunia ke 2 melanda, gelombang Blietzkrieg Nazi menggilas Eropa dan Afrika Korps merajalela di Afrika Utara. Di Afrika, kekalahan demi kekalahan harus diterima oleh Sekutu, di mana akhirnya Sekutu harus menarik mundur pasukannya sepanjang pantai utara Afrika dari Libya sampai ke El Alamein di Mesir, batas pertahanan terakhir sekutu di Afrika Utara. Kegemilangan Afrika Korps Nazi di Afrika tidak lepas dari kehebatan  komandannya, Field Marshal Erwin Rommel, seorang militer profesional yang mampu mengadaptasikan kecepatan pasukan Panser dan anti tank Jerman dengan kondisi berat padang pasir sehingga membuat pasukan sekutu tidak punya pilihan lain selain mundur teratur.

Gerak maju pasukan Jerman di Afrika harus dihentikan, kalau tidak mereka akan akan melewati Mesir, Suez dan sampai ke ladang minyak di Timur Tengah. Jatuhnya Timur Tengah ke tangan Jerman akan berakibat fatal dan berakhirnya perang dunia dengan kemenangan Jerman. PM Inggris Churchill dan para sekutunya sepakat bahwa Afrika Korps harus dihentikan dengan cara apapun. Sementara pasukan sekutu di bawah pimpinan Montgomery bersiap menghadapi gempuran Jerman di El Alamein, Inggris meyiapkan pasukan elite padang pasirnya The Long Range Desert Group (LRDG) untuk menyusup ke garis belakang Jerman, dengan misi rahasia yang jika berhasil akan berpotensi besar untuk melumpuhkan Afrika Korpo.

Buku Killing Rommel mengambil sudut pandang seorang perwira muda letnan Lawrence Chapman, yang sebenarnya seorang perwira di divisi Tank Inggris tetapi diperbantukan untuk LRDG. Seperti juga di dua bukunya yg saya sebut di atas, Steven Pressfield dengan menarik sekali menceritakan karakter utama Letnan Chapman yang berasal dari kalangan terdidik middle-class Inggris tetapi harus terjebak di kerasnya padang pasir, dalam perang yang kejam yang juga merenggut nyawa teman-teman terbaiknya.

Chapman dan LRDG harus berjuang keras untuk dapat melaksanakan misi mereka. Kerasnya padang pasir adalah tantangan utama yang harus mereka taklukan lebih dulu sebelum menghadapi tentara Jerman, tantangan yang hanya bisa dihadapi dengan persiapan matang, logistik yang memadai, dan keahlian navigasi dan menangani peralatan perang dan senjata dalam kondisi padang pasir yang sangat tidak bersahabat. Ban pecah, overheat pada radiator mesin, patah as roda, adalah hal yang berulang-ulang terjadi dalam misi di padang pasir. Faktor lain yang menjadi penghambat adalah navigasi yang sulit, gangguan dari pesawat tempur Jerman, dan yang paling parah adalah salah informasi dari intelijen Inggris. Salah navigasi dan informasi intelijen ini yang memungkinkan seringnya LRDG menyerang tempat yang salah atau bahkan saling tembak sesama anggota LRDG.

Yang juga menarik dari buku Killing Rommel ini adalah kemampuan Pressfield untuk menggabungkan tokoh-tokoh historis seperti Jake Easonsmith, Ron Tinker dan Nick Wilder dari LRDG dengan tokoh fiktif seperti Chapman dan tim T3 patrol nya. Selain itu, hampir semua detil pertempuran dan lokasinya adalah peristiwa nyata, digambarkan oleh Pressfield sedemikian rupa sehingga pembaca merasakan keberadaan diri sendiri dalam perang yang menggerus rasa kemanusiaan sampai ke titik yang terdalam.

Buku Killing Rommel sangat dianjurkan bagi anda yang tertarik pada perang dunia kedua, terutama untuk melihat bagaimana perang tersebut meluas sampai ke bagian dunia yang terkeras, bagaimana pihak yang saling berperang menggelar persenjataan dan mengorbankan jiwa manusia demi mempertahankan jengkal demi jengkal tanah tandus dan gurun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: