The Burning Land

The Burning Land adalah buku kelima dari The saxon Chronicles karangan Bernard Cornwell, melanjutkan kisah petualangan Uhtred sejak dari The Last Kingdom, The Pale Horsemen, The Lords of The North, dan Sword Song.

BurningLandDalam buku-buku sebelumnya cerita berfokus pada Uhtred, seorang Saxon dari keluarga tuan tanah di Bebbanburg, Northrumbria, Inggris utara berbatasan dengan Skotlandia, yang sejak bocah melihat tanah kelahirannya diinvasi oleh bangsa Viking dari Denmark (The Danes), ayah dan kakaknya dicincang, dan Uhtred sendiri karena keberaniannya justru ditangkap dan kemudian dibesarkan oleh bangsa Danes. Uhtred dibesarkan sebagai seorang Viking, belajar ilmu pedang dan menjadi seorang Viking Warrior.

Ketika wilayah-wilayah Inggris Saxon yang lainnya yaitu Mercia dan East Anglia dengan cepat jatuh ke tangan Danes, maka yang tersisa tinggallah Wessex di Inggris Selatan. Uhtred yang dibesarkan oleh bangsa Danes justru kemudian berbalik memihak Saxon menyusul dibunuhnya ayah angkatnya Ragnar oleh sesama bangsa Danes. Nasib mempertemukan Uhtred dengan Alfred, King of Wessex, harapan terakhir bangsa Saxon. Nasib juga yang membuat Uhtred terpaksa bersumpah setia kepada Alfred walaupun sesungguhnya Uhtred tidak menyukai dan banyak bermasalah dengan Alfred.

Kemenangan demi kemenangan membawa Uhtred menjadi seorang Warlord, jendral Saxon kepercayaan Alfred. Di bawah komando Uhtred, Wessex yang tadinya terancam oleh invasi Danes justru berhasil mengusir bangsa Danes dari tanah Wessex, bahkan bangsa Saxon berhasil merebut London, kota penting di tepi sungai Thames yang berbatasan dengan wilayah Mercia, East Anglia dan Wessex. Demikian pula Mercia akhirnya berada di bawah kekuasaan Alfred setelah menikahkan putrinya Aetheflaed dengan Aethelred, seorang bangsawan Mercia.

Pada buku kelima ini diceritakan awalnya Uhtred menetap di London memimpin garnisun penjaga kota London, sementara itu wilayah Wessex mendapat ancaman serangan besar-besaran dari bangsa Viking yang dipimpin oleh Harald Bloodhair. Uhtred yang masih terikat sumpah dengan Alfred kemudian dipanggil untuk mempertahankan Wessex. Dengan strategi yang tepat, Uhtred memimpin bangsa Saxon yang kalah jumlah untuk mengalahkan Harald Bloodhair dalam pertempuran bersejarah di Farnham. Kemenangan yang luar biasa itu sayangnya terganggu berita buruk dari London, istri Uhtred meninggal dunia ketika melahirkan anaknya.

Ketika kembali ke London, Uhtred terlibat perselisihan dengan Bishop Asser, penasehat kepercayaan Alfred, yang menghina mendiang istri Uhtred. Perselisihan tersebut berujung dengan tewasnya seorang pendeta ditangan Uhtred, yang kemudian dinyatakan bersalah dan harus menerima hukuman dari Alfred. Uhtred yang sudah muak dengan Alfred memutuskan untuk melarikan diri dari London bersama anak buahnya yang masih setia.

Seperti juga dalam buku-buku sebelumnya, The Burning Land masih dihiasi konflik menarik antara Uhtred dan Alfred yang berbeda pandangan dalam banyak hal, terutama masalah agama. Uhtred adalah seorang pagan, dibesarkan sebagai seorang warrior oleh bangsa Viking dan memuja dewa-dewa Viking terutama Thor. Sementara itu King Alfred adalah seorang kristen yang taat, sama sekali bukan warrior, dan semua keputusannya selalu berdasarkan pertimbangan spiritual. Perbedaan ini yang membuat Uhtred sebetulnya tidak cocok dan ingin secepatnya meninggalkan Alfred untuk kembali ke tanah kelahirannya di Bebbanburg, tetapi sumpahnya membuat dia harus tetap setia kepada Alfred.

Perselisihan dengan Asser di London menjadi klimaks yang membuat Uhtred tidak tahan dan akhirnya pergi meninggalkan Alfred. Uhtred pergi ke Northrumbia dan bertemu dengan saudara tirinya Ragnar Ragnarsson, putra kandung Ragnar, seorang Danes. Ragnar bersedia membantu Uhtred merebut kembali Bebbanburg, tetapi untuk itu Uhtred harus memiliki emas yang banyak untuk dapat merekrut para warrior menjadi pengikutnya. Dalam usahanya mencari emas itu, Uhtred berlayar sampai kepulauan Frisia (sekarang Belanda) untuk merebut persediaan emas di markas perompak terkenal bernama Skirmir.

Walaupun berhasil mengalahkan Skirmir, emas yang didapat ternyata sangat sedikit dan tidak cukup untuk membiayai perang merebut Bebbanburg. Uhtred akhirnya setuju untuk membantu Ragnar menyerbu Wessex, berperang melawan Alfred yang sudah sakit-sakitan cukup parah. Ekspedisi menyerang Wessex ini menjadi ekspedisi besar-besaran karena didukung oleh para penguasa bangsa Danes lainnya seperti Cnut dan Sigfrid, tetapi terutama juga karena dukungan Jarl Haesten, seorang pemimipin bangsa Danes yang culas yang dalam waktu bersamaan akan menyerang Mercia. Haesten sebelumnya adalah musuh bebuyutan Uhtred, tetapi kini bersatu untuk menyerang Wessex dan Mercia

Kombinasi serangan Ragnar dari laut ke Wessex dan daratan Mercia oleh Haesten akan sangat mematikan buat Alfred, ditambah lagi Uhtred sekarang berada di pihak lawan. Tetapi pada saat-saat terakhir Uhtred mendapat kunjungan dari seorang utusan Aethlflaed, putri Alfred yang menjadi istri Aethelred, penguasa Mercia. Utusan tersebut mengingatkan walaupun Uhtred sudah tidak mau terikat sumpah dengan Alfred, tetapi dia pernah bersumpah (oath bound) kepada Aethelflaed, dan sekarang dia meminta Uhtred memenuhi sumpahnya untuk melindungi Aethelflaed dan Mercia dari serangan Haesten.

Fate is inexorable. Nasib memang tidak bisa dihindari. Uhtred yang tadinya siap berperang melawan Alfred, akhirnya harus kembali ke sisi Alfred berpihak kepada bangsa Saxon melawan serbuan bangsa Danes yang dipimpin oleh musuh bebuyutannya Haesten dan saudara tirinya Ragnar. Mampukah Uhtred kembali membawa kemenangan untuk Alfred dan bangsa Saxon? Silakan nikmati dalam buku The Burning Land ini.

The Burning Land makin mengukuhkan Bernard Cornwell sebagai master dalam historical fiction. Salah satu kehebatannya adalah kemampuannya untuk menyatukan tokoh fiksi seperti Uhtred dengan tokoh historis seperti King Alfred dengan penggambaran karakter yang sangat detil dan segala konflik antara dua pribadi yang bertolak belakang. Alfred disebut-sebut sebagai pemersatu dan pendiri kerajaan Inggris. Ketika Alfred meninggal, Inggris memang masih terbagi dalam 4 kerajaan besar yaitu Wessex, Mercia, East Anglia, dan Northrumbria, dengan sebagian besar masih di bawah kekuasaan Danes. Tetapi Alfred lah yang pertama memperkenalkan istilah England untuk daratan yang dihuni oleh bangsa Anglo dan Saxon tersebut. Alfred pula yang memulai usaha-usaha untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang terpisah tersebut dan mengusir Danes dari daratan Inggris.

Akhir kata The Burning Land dan buku-buku lain dalam The Saxon Chronicles sangat direkomendasikan untuk dibaca, bukan hanya untuk menikmati serunya cerita perjuangan bangsa Saxon, tetapi terlebih lagi memperkaya pengetahuan kita akan kelahiran bangsa Inggris, bangsa yang nantinya menjadi penguasa dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: