Warriors of the Storm (Book 9 of The Saxon Chronicles)

Warrior of the StormKisah petualangan Uhtred of Bebbanburg berlanjut terus hingga buku ke-9 Warriors of the Storm. King Alfred sudah wafat dan kekuasaan di kerajaan-kerajan di Inggris dilanjutkan oleh putra-putrinya, Edward sebagai king of Wessex di Inggris selatan dan Æthelflæd sebagai penguasa Mercia. Sementara orang-orang Vikings harus puas mendiami Northrumbria di Inggris bagian utara, setelah gagal dalam berkali-kali usahanya menginvasi Wessex dan Mercia, dan harus mengakui keunggulan strategi perang King Alfred dan Uhtred sebagai panglimanya. Kedamaian, walaupun semu, sementara bisa dinikmati rakyat Inggris. Dalam masa damai ini Uhtred yang sudah beranjak tua diserahi tanggung jawab mengepalai garnisun di kota benteng Ceaster (sekarang Chester) dan Brunanburh di mulut sungai Maerse, di dekat perbatasan Mercia dan Northrumbia, dibantu oleh putranya Uhtred Uhtredson. Continue reading

The Imitation Game

Enigma“…Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… hollow…”

Alan Turing meyakini hal ini berdasarkan pengalaman masa kecil dan remajanya ketika semua temannya menganggap dirinya tidak normal dan kerap melakukan kejahilan dan kekerasan kepadanya. Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan itulah yang membentuk karakter Alan menjadi seorang jenius yang penyendiri dan anti sosial.

Film The Imitation Game memang bercerita tentang Alan Turing (diperankan oleh Benedict Cumbercatch), seorang jenius ahli matematika di masa perang dunia II, dalam usahanya meretas mesin pengkode Jerman bernama Enigma. Jika Alan mampu meretas Enigma maka pihak sekutu akan bisa menerjemahkan pesan rahasia militer Jerman sehingga sekutu bisa melakukan antisipasi terhadap rencana serangan Jerman setiap hari.

Pesan untuk armada perang Jerman disiarkan setiap pagi dalam bentuk kata-kata dalam bahasa Jerman yang sebenarnya merupakan kata-kata sandi untuk menyamarkan perintah penyerangan, koordinat serangan, dan berbagai informasi lainnya. Pihak intelijen Inggris berhasil mendapatkan satu mesin Enigma dan berhasil mengintersep pesan Jerman setiap hari, tetapi ini saja tidak cukup karena mereka tidak berhasil menerjemahkan pesan-pesan tersebut.

PM Inggris Churchill membentuk proyek rahasia dengan satu team khusus yang bertugas untuk meretas Enigma dan menerjemahkan kata sandi militer Jerman, dan diisi oleh para jenius ahli matematika dan pengkodean dari seluruh Inggris dan dipimpin oleh Commander Denniston. Alan Turing, seorang jenius yang arogan dari universitas Cambridge datang menemui Denniston untuk mendaftar dan interviu menjadi anggota penerjemah Enigma. Arogansi dan percaya diri Alan yang terlalu tinggi hampir membuatnya gagal masuk dalam team.

Alan akhirnya masuk dalam team tetapi tidak disukai oleh anggota team yang lain karena sifatnya yang arogan dan anti sosial. Denniston hampir saja memecat Alan tetapi Alan menulis surat yang meyakinkan kepada Churchill sehingga bukan saja Alan tidak jadi dipecat, malahan dia diangkat oleh Churchill untuk memimpin team khusus tersebut. Alan kemudian merekrut tambahan personnel dengan mencari orang-orang jenius dari seluruh pelosok Inggris dengan menggunakan cara seleksi yang unik yaitu dengan menggunakan tes mengisi Teka-Teki Silang. Dari hasil seleksi terjaring jenius perempuan Joan Clarke (diperankan oleh Kiera Knightley), yang walaupun jenius tetapi sangat manusiawi dan sosial, bertolak belakang dengan Alan. Joan juga yang akhirnya berhasil sedikit mencairkan arogansi Alan sehingga ia bisa diterima oleh anggota team lainnya.

Alan dan team nya sesungguhnya memang melakukan pekerjaan yang sangat tidak mungkin yaitu menerjemahkan kode rahasia dengan berjuta-juta kemungkinan pada setiap pesan (tepatnya 159 million million million possibilities) karenanya, berbeda dengan anggota team lainnya, Alan berkeyakinan bahwa pekerjaan tersebut hanya bisa dilakukan oleh sebuah mesin. Alan kemudian mendesain sebuah mesin penerjemah Enigma dan meminta dana sebesar 100,000 US Dollar, jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Ketika dana diterima dan mesin tersebut akhirnya bisa terwujud, ternyata mesin tersebut masih belum mampu menyelesaikan masalah. Input kata-kata sandi yang dimasukkan ke dalam mesin tersebut menghasilkan proses kontinu yang tidak ada akhirnya pada mesin tersebut. Sementara saat itu Inggris mengalami tekanan besar dari Jerman, armada laut Inggris kerap disergap oleh kapal selam U-boat Jerman dan kota London dibombardir oleh pesawat-pesawat pembom Luftwaffe. Denniston marah dan hampir saja menghancurkan mesin buatan Alan kalau saja Alan tidak dibela oleh rekan satu team nya. Alan dan team nya kemudian diberikan tenggang waktu satu bulan untuk menyelesaikan masalah, dan ide perbaikan akhirnya muncul tak terduga hasil obrolan di bar dengan seorang operator telepon.

Film Imitation Game walaupun memakai setting Perang Dunia II bukanlah film perang biasa dengan hingar bingar dentuman meriam dan rentetan senapan mesin, walaupun di beberapa bagian film disajikan gambaran London yang luluh lantak dibom Jerman dan juga gerak maju tank-tank Jerman melindas daratan Eropa. Bendict Cumbercatch jelas merupakan pemeran yang tepat sebagai Alan Turing, apalagi dia sudah terbiasa berperan sebagai seorang jenius dalam serial televisi Sherlock dimana dia berperan sebagai detektif cerdas Sherlock Holmes. Raut muka pemikir yang selalu berkerut atau tingkah menyebalkan seoarang jenius bukanlah hal baru buat Cumbercatch. Sebaliknya, senyum khas gigi gingsul Kiera Knightley justru kelihatan terlalu masa kini dan agak kurang menyatu dengan setting tahun 40an.

Film ini lebih bercerita tentang sisi drama kehidupan Alan Turing, yang di masa remajanya dimusuhi oleh teman-temannya karena sifatnya yang aneh. Satu-satunya teman Alan adalah Christofer yang pernah menyelamatkan Alan ketika dia dijahili oleh teman-temannya dengan cara dikubur di bawah lantai kelas. Bersama Christofer – namanya kemudian diabadikan dalam nama mesin ciptaannya – Alan mulai menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kata-kata sandi dan bagaimana menerjemahkannya.  Christofer kemudian meninggal mendadak karena penyakit yang dideritanya mengakibatkan Alan mengalami tekanan yang sangat besar dan akhirnya dia benar-benar menjadi penyendiri dan anti sosial, sampai kemudian dia lulus dari Cambridge dan bekerja dalam team peretas Enigma.

Pertemuan Alan dengan Joan Clarke lah yang kemudian sedikit merubah Alan. Joan mengajari Alan bahwa untuk mendapatkan simpati dan bantuan dia harus lebih dulu berbuat baik pada orang lain. Joan juga lah yang meyakinkan Alan bahwa dengan ketidaknormalannya itulah Alan bisa berkontribusi kepada orang banyak, kontribusi yang justru tidak bisa dilakukan oleh orang normal.

“…Do you know, this morning I was on a train that went through a city that wouldn’t exist if it wasn’t for you. I bought a ticket from a man who would likely be dead if it wasn’t for you. I read up, on my work, a whole field of scientific inquiry that only exists because of you. Now, if you wish you could have been normal… I can promise you I do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren’t…”

Alan adalah orang aneh yang tidak terbayangkan oleh orang lain, tetapi hanya orang seperti Alan lah yang bisa menghasilkan sesuatu yang juga tidak terbayangkan oleh orang lain.

“…Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can  imagine…”

Film ini tidak hanya menceritakan perjuangan Alan dan teman-temannya meretas Enigma, tetapi juga persoalan-persoalan lain yang dihadapi Alan seperti tuduhan sebagai agen komunis dan penganut homoseksualitas. Ketika akhirnya mesin ciptaan Alan berfungsi dengan baik pun, Alan tetap harus merahasiakan keberhasilannya agar tidak bocor ke pihak Jerman dan hanya menggunakan mesinnya untuk memecahkan pesan sandi untuk kejadian yang secara probabilitas lebih menguntungkan Inggris dan sekutunya. Hal ini membuat Alan makin kelihatan sebagai monster bahkan dia seakan playing God karena kadang membiarkan sekutu mengalami kekalahan yang mengakibatkan kematian ratusan tentaranya, demi mencapai probabilitas lebih baik dalam memenangkan perang secara keseluruhan. Pada akhirnya Alan melihat perang tidak dimenangkan oleh para jendral di medan perang, tetapi ditentukan oleh para ahli probabilitas.

Alan Turing meninggal beberapa tahun setelah perang berakhir dalam masa menjalani hukuman karena kasus homoseksualitas. Mesin peretas Enigma ciptaannya dan jasa-jasanya tetap dirahasiakan sampai 50 tahun setelah perang berakhir. Tetapi para ahli menyimpulkan bahwa berkat mesin Alan lah Perang Dunia II bisa diselesaikan 2 tahun lebih cepat dan jutaan orang terselamatkan. Pesan penutup film menjelaskan kontribusi luar biasa Alan Turing tidak hanya terhadap penyelesaian perang, tetapi juga penemuan-penemuan teknologi sesudahnya.

“…His machine was never perfected, though it generated a whole field of research into what became known as “Turing Machines”. Today we call them “computers”….”

Exodus: Gods and Kings

exodus_gods_and_kings_movie-wide

Tidak biasanya saya ingin cepat-cepat nonton film yang baru diputar beberapa hari di bioskop. Kebiasaan saya justru nonton film pada saat film itu sudah tidak populer lagi, alasan utama saya adalah saya lebih suka nonton di bioskop yang sepi pengunjung, enak bisa pindah-pindah tempat duduk. Tapi kali ini berbeda. Selain ini adalah film epic yang merupakan kesukaan saya, film Exodus: Gods and Kings yang bercerita tentang Nabi Musa (diperankan oleh Christian Bale) ini saya takut bernasib sama dengan Noah, film tentang Nabi Nuh, yang dilarang diputar di sini.

Film Exodus ini memang bercerita tentang Moses atau Nabi Musa, dalam kisahnya membebaskan Bani Israil dari penindasan Firaun di Mesir sebagaimana dikisahkan dalam The Book of Exodus, salah satu kitab Bani Israil. Agak berbeda dengan kisah Nabi Musa yang lain, kali ini cerita tidak dimulai saat Musa masih bayi seperti dalam film lainnya, melainkan dalam film ini kisah dimulai pada saat Musa sudah dewasa dan menjadi seorang jendral andalan Firaun, dan bersahabat erat dengan putra mahkota Ramses II.

Ada rasa kecewa ketika film baru dimulai yang muncul adalah tokoh Firaun Seti dengan suara seperti di dubbing, putra mahkota yang terlihat genit dengan eye liner terlalu tebal, dan Musa dengan rambut kelimis belah pinggir. Saya fikir jangan-jangan ini film ala soap opera atau mungkin sekedar film berbiaya minimalis. Tapi kekecewaan saya langsung sirna begitu scene berikutnya menampilkan Musa dan Ramses II sang putra mahkota Mesir bersama-sama memimpin pasukan mesir menyerbu pasukan Hittite yang ditampilkan dalam satu adegan yang epic lengkap dengan pasukan kereta perang chariot, yang pada masa itu merupakan ujung tombak dalam menerjang barisan pasukan pihak lawan. Dalam perang ini dikisahkan bagaimana Musa menyelamatkan nyawa Ramses dan karenanya Ramses merasa hutang budi kepada Musa.

Walaupun seorang jendral brilian yang dipercaya penguasa Mesir, Musa sebenarnya merasa simpati pada penderitaan Bani Israil yang hidup sebagai budak di Memphis, ibukota Mesir saat itu. Rasa simpati itu makin menguat saat Musa berkunjung ke kota Pithom untuk mengaudit seorang gubernur korup bernama Hegep, saat itulah Musa melihat kesewenang-wenangan bangsa Mesir dan penderitaan Bani Israil yang luar biasa. Di kota Pithom juga lah Musa bertemu dengan the Elders, para tetua Bani Israil, dari mereka lah Musa mendapat cerita bahwa Musa sendiri adalah seorang dari Bani Israil, dibuang oleh ibunya ke sungai Nil sesaat setelah dilahirkan karena takut dibunuh Firaun, bayi Musa kemudian justru dipelihara di istana oleh istri Firaun dan diasuh oleh kakanya sendiri, Miriam. The Elders juga bercerita bahwa Musa lah yang diramalkan akan menjadi pemimpin Bani Israil. Musa tidak langsung percaya cerita itu walaupun begitu cerita itu terus mengganggunya sampai dia kembali ke Memphis lagi.

Sekembalinya Musa ke Memphis, tidak lama berselang Firaun Seti meninggal dan digantikan oleh putranya, Ramses. Ramses kemudian mendengar cerita tentang Musa tersebut dari Hegep – yang mendengar cerita itu juga dari mata-matanya di Pithom. Ramses murka dan kemudian mengusir dan mengasingkan Musa dari Memphis karena dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat Musa pergi ke pengasingannya itulah Miriam dan istri Firaun bercerita bahwa benar Musa adalah seorang dari Bani Israil.

Dalam pengelanaannya Musa bertemu dengan gadis cantik Zipporah yang kemudian dinikahinya dan mendapatkan seorang putra bernama Gershom. Musa tinggal bersama keluarganya dan menjadi gembala kambing. Suatu hari hujan turun sangat lebat, Musa yang sedang mengejar kambing-kambingnya ke bukit terkena longsoran batu dan terkubur nyaris seluruh tubuhnya oleh lumpur dan batu-batuan. Pada saat terkubur dan tidak bisa bergerak sama sekali itulah muncul Tuhan, dalam bentuk seorang anak kecil, yang mengajak Musa bicara dan mengangkatnya sebagai wakilnya di bumi.

Setelah peristiwa di bukit itu Musa merasa mendapat pencerahan dan kemudian pergi ke Pithom dan Memphis untuk menggalang kekuatan Bani Israil. Musa melatih Bani Israil untuk berperang tetapi Tuhan kemudian tidak sabar dan menurunkan bencana kepada bangsa Mesir dalam bentuk serangan buaya di sungai Nil, air sungai berubah menjadi darah, penyakit kulit, serta serangan lalat, katak, dan belalang. Musa hanya bisa menyaksikan bencana-bencana tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa. Ramses tidak bergeming dengan semua bencana tersebut sampai akhirnya Tuhan menurunkan bencana yang paling dahsyat yaitu dalam satu malam semua anak laki-laki bangsa Mesir, termasuk anak bayi Ramses, mati mendadak. Ramses dalam kesedihan luar biasa kemudian membiarkan semua orang Bani Israil pergi dari Mesir.

Musa memimpin 400 ribu Bani Israil eksodus dari Mesir menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan. Setelah beberapa hari kesedihannya reda, Ramses berubah pikiran dan memimpin sendiri pasukannya mengejar Bani Israil. Musa memimpin Bani Israil melewati gurun dan gunung, tetapi perjalanan mereka terhenti karena terhalang oleh laut Merah, sementara pasukan Ramses yang mengejar sudah makin dekat dan siap menhancurkan mereka. Musa merasa frustrasi karena dia merasa dia sendiri lah yang membawa Bani Israil menuju kehancuran, sampai akhirnya turun mukjizat Tuhan yang membuat laut merah terbelah.

Seperti juga Noah yang dibintangi oleh Russell Crowe, film The Exodus: Gods and Kings ini juga terinspirasi oleh cerita dalam bible. Khusus untuk The Exodus ini, kelihatannya banyak adegan yang diangkat dari kitab-kitab Bani Israil. Saya sendiri tidak familiar dengan bible, karenanya saya pribadi mengambil referensi dari Al-Quran yang juga menceritakan kisah nabi Musa ini. Dari pandangan agama, kelihatannya banyak hal yang lumayan kontroversial dari The Exodus, bahkan rasanya lebih “kurang ajar” daripada Noah, makanya agak mengherankan kalau Noah dilarang beredar tetapi The Exodus lolos. Penggambaran Tuhan sebagai anak kecil perajuk berumur kurang lebih 10 tahun rasanya adalah hal paling kontroversial dalam film ini.  Tidak jelas apa alasan sutradara Ridley Scott memilih anak kecil sebagai personifikasi Tuhan, yang jelas pilihan ini sangat potensial mengundang kritik bahkan protes dari umat beragama samawi, dan pilihan ini justru memberikan kesan seakan-akan bencana hebat yang dialami bangsa Mesir sekedar karena Tuhan sedang ngambek dan bersikap childish. Atau memang ini yang mau ditunjukkan oleh Scott?

Sosok Musa yang awalnya digambarkan sebagai seorang warrior dan jendral perang ulung yang sangat percaya diri belakangan berubah menjadi sosok yang serba salah, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan Tuhannya. Dia bahkan terlihat useless, tidak berperan apa-apa dan tidak berbuat apa-apa ketika Tuhan menurunkan bencana silih berganti. Ini sangat bertentangan dengan sosok nabi Musa yang merupakan tokoh favorit saya sejak saya kecil, dimana dalm gambaran saya Musa adalah seorang nabi yang tough karena dia tidak hanya harus menghadapi Firaun dan pengikutnya, tapi dia juga harus mengajari Bani Israil, kaumnya sendiri yang penuh tipu muslihat dan sulit untuk diajak ke jalan yang benar. Karenanya nabi Musa tergolong dalam Ulul Azmi (bersama nabi Nuh, Ibrahim, Isa, dan Muhammad saw), yaitu nabi dan rasul yang memiliki tingkat kesabaran dan ketabahan yang sangat tinggi. Sosok Christian Bale yang jauh-jauh datang dari Gotham City juga tidak membantu, sebagian kritikus bahkan menganggap Bale terlalu bule untuk berperan sebagai Musa, yang mestinya diperkirakan berkulit agak gelap terbakar sinar matahari padang pasir Mesir. Menariknya lagi ada yang menganggap film ini terlalu “white” dan bahkan racist, tidak nampak aktor atau figuran berkulit agak gelap atau bahkan kulit hitam.

Yang menarik dari film ini adalah Scott seakan ingin memasukkan penjelasan ilmiah pada kejadian-kejadian di masa nabi Musa. Ada satu episode dimana seorang bangsawan Mesir mencoba untuk menjelaskan bahwa semua bencana yang terjadi di Mesir ada penjelasan ilmiahnya, misalkan sungai berwarna merah itu bukanlah darah tetapi tanah merah yang terangkat karena amukan buaya, kemudian ribuan katak keluar dari sungai karena lupan tanah merah itu mengakibatkan kekurangan oksigen. Kemudian pada saat Musa dan bani Israel sampai di tepi laut Merah, laut itu tidak digambarkan terbelah sebagaimana jelas-jelas dinyatakan dalam kitab suci. Pada film ini diperlihatkan laut Merah yang pada malam hari terlihat dalam dan luas dengan ombak menggelora, pada pagi hari perlahan-lahan menjadi surut bahkan di beberapa bagian mengering sehingga bisa dilewati oleh Musa dan pengikutnya. Dan ketika bani Israel berhasil menyeberang dan Ramses bersaman pasukannya yang mengikuti mereka sampai di tengah laut, tiba-tiba gelombang air laut yang tinggi menggunung datang menyapu mereka. Gambaran ini seakan-akan menunjukkan laut terbelah yang disebutkan dalam kitab suci itu adalah fenomena tsunami, dimana gelombang tsunami yang dahsyat biasanya diawali dengan air laut yang surut menjauh dari garis pantai. Saya sendiri sangat menyukai visual effect dari kejadian laut surut ini, tapi untuk kebenarannya tentu hanya bisa bilang Wallahu a’lam.

Sebagai penutup saya rasa tidak ada salahnya menonton film Exodus: Kings and Gods ini, hanya saja jangan berharap mendapatkan pencerahan teologi dari film ini. Jangan pula mencoba mencocokkan dengan ayat-ayat dalam kitab suci karena kelihatannya banyak sekali yang melenceng. Saran saya anggap saja sebagai sebuah film cerita biasa, atau paling tidak sebagai sebuah cerita sejarah, dan nikmati visual effect nya yang bagus dan mencekam, seperti pada saat serangan belalang dan katak. Mengerikan!

New Mini Serie: The Last Kingdom

Ilustrasi Uhtred of Bebbanburg

Ilustrasi Uhtred of Bebbanburg

The Last Kingdom, buku pertama dari The Saxon Chronicles karya Bernard Cornwell akan segera diangkat ke layar kaca oleh BBC, dibintangi oleh Alexander Dreymon sebagai Uhtred dan David Dawson sebagai King Alfred, film tentang perjuangan bangsa Saxon mempertahankan tanah Inggris dari serbuan invasi Viking dari Denmark ini mengambil lokasi shooting di Hungaria dan Inggris.

Selengkapnya bisa dibaca di:

http://www.carnivalfilms.co.uk/news/filming-begins-last-kingdom

 

The White Queen

THE-WHITE-QUEENThe White Queen merupakan film drama televisi yang disiarkan oleh BBC di Inggris dan Starz di US pada pertengahan tahun 2013, terdiri dari 10 episode, dan merupakan adaptasi dari novel best-seller dengan judul yang sama karya Philippa Gregory.

The White Queen mengambil setting perang saudara abad ke 15 di Inggris antara keluarga York dan Lancaster, perang yang dikenal sebagai War of the Roses atau Cousin’s War. The White Queen adalah julukan untuk Elizabeth Woodville, putri dari keluarga kelas menengah di Inggris yang awalnya merupakan pendukung keluarga Lancaster, yang kemudian dinikahi oleh King Edward IV dari keluarga York. Pernikahan King Edward dan Elizabeth adalah hasil dari Love at First Sight, Edward langsung kepincut dengan kecantikan Elizabeth – saat itu seorang janda dengan 2 anak laki-laki – pada saat pertama kali melihatnya di bawah pohon oak di Grafton Regis, Northampton. King Edward baru saja naik tahta setelah menggulingkan King Henry VI dari keluarga Lancaster setelah The Battle of St Alban, dengan bantuan sepenuhnya dari sepupunya  Richard Neville, Duke of Warwick, yang kemudian dikenal sebagai The Kingmaker. Pernikahannya dengan Elizabeth ditentang dengan keras oleh keluarganya, terutama oleh Warwick, sehingga kemudian pernikahan tersebut justru memecah belah keluarga York.

Elizabeth adalah putri dari Jacquetta, the Lady Rivers, yang meyakini dirinya adalah keturunan Melusina, dewi penguasa sungai, dan karenanya baik Elizabeth maupun ibunya memiliki kemampuan sihir dan melihat masa depan. Kekuatan sihir inilah yang dituduhkan digunakan oleh mereka berdua untuk menjatuhkan musuh-musuh mereka.

Pada awalnya Elizabeth mencoba berbaik hati dan berdamai dengan Warwick dan keluarga Edward yang lainnya seperti ibunya Cecily, dan dua adiknya, George dan Richard. Tetapi yang terjadi justru perpecahan di keluarga York mencapai puncaknya ketika George, adik Edward, bersekongkol dengan Warwick untuk menggulingkan Edward. George dan Warwick dengan tangan dingin menangkap dan memenggal kepala kakak dan ayah Elizabeth, dan menangkap Edward memaksanya untuk menyerahkan tahta kepada George. Pemberontakan George dan Warwick gagal karena tidak mendapat dukungan dari parlemen, sehingga akhirnya mereka terpaksa membebaskan Edward. Edward ternyata kemudian malah memaafkan George dan Warwick dengan harapan keluarganya akan kembali utuh. Elizabeth sendiri sudah terlanjur benci kepada George dan Warwick karena membunuh kakak dan ayahnya, dan dengan bantuan ibunya mengutuk keduanya, menulis nama mereka dengan darah di malam purnama, meramalkan kematian mereka.

Sisi lain dari film ini mengisahkan Lady Margaret Beaufort dari keluarga Lancaster, janda dari Edmund Tudor yang meninggal dalam peperangan dengan keluarga York, dan karenanya dihukum untuk hidup terpisah dengan putra satu-satunya Henry. Henry dibawa dan dibesarkan oleh adiknya Jasper Tudor di kastil Pembroke dan kemudian diasingkan di Perancis, tetapi Margaret bersumpah akan berjuang untuk membawa Henry meraih tahta raja Inggris.

????????????????????George dan Warwick ternyata masih berambisi untuk menggulingkan Edward, dan Warwick tanpa persetujuan Edward menikahkan George dengan Isabel, putri sulung Warwick. Pernikahan ini menghasilkan aliansi yang kuat antara George dan Warwick, dan kalau mereka berhasil menggulingkan Edward maka Warwick akan memiliki posisi yang kuat sebagai  ayah dari Queen Isabel. Edward lagi-lagi berhasil menggagalkan pemberontakan Warwick, sehingga George dan Warwick beserta keluarganya terpaksa melarikan diri menyeberang ke Perancis. Elizabeth dan ibunya menggunakan kekuatan sihirnya untuk menurunkan hujan badai di selat Inggris sehingga Isabel yang berlayar dalam keadaan hamil tua harus melahirkan dalam badai di tengah laut dan akhirnya kehilangan putranya.

Di Perancis Warwick justru bergabung dengan musuhnya dulu yaitu Margaret of Anjou, istri dari King Henry VI yang masih berambisi menggulingkan Edward dan mengembalikan tahta kepada keluarga Lancaster.  Warwick bahkan kemudian memperkuat aliansinya dengan Margaret dengan menikahkan putri keduanya, Anne, dengan Edward putra Margaret, putra mahkota keluarga Lancaster. Warwick kemudian kembali ke Inggris, dan berhasil menjebak dan mengalahkan pasukan King Edward sehingga Edward terpaksa melarikan diri ke Netherlands dan Burgundy, sedangkan Elizabeth dan anak-anaknya mengungsi berlindung di gereja Westminter Abbey. Warwick kemudian mengembalikan King Henry VI ke tahta raja Inggris sambil menunggu Margaret of Anjou kembali ke Inggris. Keberhasilan Warwick semakin mengukuhkan julukannya sebagai Warwick The Kingmaker, orang yang bisa menentukan siapa yang harus jadi raja.

Kekuasaan Henry VI tidak berlangsung lama. Dengan kembalinya kekuasaan ke tangan Lancaster maka George kehilangan peluang untuk menjadi raja, sehingga kemudian dia mengkhianati Warwick dan kembali mendukung Edward. Edward kemudian kembali ke Inggris membawa pasukannya mengalahkan Warwick dalam Battle of Barnet. Warwick tewas dalam perang tersebut dan Edward kembali naik tahta. Margaret of Anjou dan putranya Edward mendarat di Inggris beberapa hari sebelum Battle of Barnet, tetapi gagal bergabung dengan pasukan Warwick. Pasukan Margaret akhirnya kemudian juga berhasil dikalahkan oleh King Edward dan putranya terbunuh dalam Battle of Tewkesbury. Dengan tewasnya sang putra mahkota maka berakhirlah klaim Lancaster terhadap tahta raja Inggris.

Selama belasan tahun berikutnya King Edward berkuasa di Inggris dan membawa Inggris dalam perdamaian, sampai ketika akhirnya dia sakit dan meninggal dengan cepat. Saat itu putra sulung King Edward (namanya juga Edward) masih kecil sehingga dia menunjuk adiknya Richard sebagai penguasa sementara sampai putranya dewasa. Tetapi Richard kemudian justru berseteru dengan Elizabeth dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja. Elizabeth kembali belindung di Westminter Abbey sementara putranya Edward disandera oleh Richard di Tower of London. Elizabeth dibantu oleh Margaret Beaufort dan Lord of Buckingham berusaha membebaskan Edward, tetapi gagal. Edward bahkan kemudian hilang dan tidak ada yang mengaku membunuhnya. Jasadnya juga tidak pernah ditemukan. Elizabeth dan putri tertuanya (sama bernama Elizabeth dan mempunyai kemampuan sihir juga) kemudian mengutuk siapa pun yang membunuh Edward tidak akan mempunyai keturunan laki-laki sampai seterusnya.

Di akhir cerita Elizabeth tidak punya pilihan lain selain bekerjasama dengan Margaret Beaufort untuk membawa pulang putranya Henry Tudor dari pengungsiannya di Perancis dan merebut tahta dari Richard. Elizabeth setuju untuk menikahkan putrinya Elizabeth dengan Henry Tudor, sehingga jika Henry berkuasa maka putrinya akan menjadi Queen Elizabeth, dan menjadi simbol bersatunya keluarga York dan Lancaster. Episode terakhir film ini ditutup dengan mendaratnya Henry Tudor di Inggris, disambut oleh King Richard dalam Battle of Bosworth Field.

1white_queensThe War of the Roses adalah masa krusial dalam sejarah Inggris ketika dua klan besar York dan Lancaster keturunan keluarga Plantagenet terpecah dan berseteru memperebutkan tahta Inggris, perang yang berakhir dengan naiknya keluarga Tudor sebagai klan baru yang berkuasa di Inggris dan membawa Inggris dalam masa kejayaannya. Cerita dalam The White Queen menunjukkan bagaimana wanita di masa itu dijadikan alat politik, dengan siapa mereka menikah diatur untuk memenuhi ambisi orang tuanya. Tetapi yang terjadi justru para wanita inilah yang kemudian mengatur suami dan anak mereka untuk merebut kekuasaan. Terlihat sekali dalam film ini bagaimana sepanjang berlangsungnya War of the Roses selama puluhan tahun terjadi persaingan antara para ratu seperti Margaret of Anjou, Elizabeth Woodville (The White Queen), Anne Warwick, dan Margaret Beaufort. Philippa Gregory bahkan menyiapkan masing-masing satu buku lagi untuk menceritakan kisah Margaret Beaufort (The Red Queen) dan Anne Warwick (Kingmaker’s Daughter).

VIKING : Sworn Brother

sworn brotherSworn Brother adalah buku kedua trilogi Viking karya Tim Severin, melanjutkan kisah petualangan sang putra Odinn, Thorgils Leifsson. Buku pertama Odinn’s Child mengisahkan masa kanak-kanak dan remaja Thorgils dalam petualangannya mempelajari The Old Ways, perjalanannya dari Scotland ke Iceland, menetap di Greenland, ekspedisi ke Vinland di amerika utara, kembali lagi ke Iceland, sampai akhir perjalanannya di Ireland. Dalam buku kedua ini petualangan Thorgils berlanjut ke England, Norway, kembali lagi ke Iceland, kemudian memulai petualangan baru di pedalaman Finlandia, ke Rusia menelusuri sungai Dnieper sampai ke Konstantinopel.

Sworn Brother berawal di London. Thorgils yang dalam bagian akhir dari Odinn’s Child dibuang ke laut di Ireland (sebagai hukuman karena mencuri dari gereja) diselamatkan oleh nelayan dibawa ke Oarkney, Scotland, dan kemudian ikut rombongan penyair sampai ke London. Di London Thorgils terlibat percintaan yang sama sekali tidak main-main, yaitu dengan Aelfgifu, istri raja Inggris King Knut yang luar biasa cantik. Knut adalah keturunan Viking yang menjadi raja di Inggris dengan berhasil menyatukan bangsa Saxon dengan Norsemen (Danes dan Norway). Pernikahan Knut dengan Aelfgifu, putri seorang raja Saxon, adalah juga bertujuan politik untuk mengamankan kerajaannya. Perselingkuhan Thorgils dengan Aelfgifu bisa sangat membahayakan keduanya, sehingga demi untuk menghindari gosip istana akhirnya Thorgils ikut dengan rombongan Aelfgifu ke Northampton. Di sana Thorgils menjadi pelatih burung Spear Falcon, elang pemburu yang hanya hidup di Greenland, kampung halaman Thorgils.

Sekembalinya ke London dari Northampton, tetap untuk menghindari gosip istana, Aelfgifu menempatkan Thorgils di rumah seorang pembuat perhiasan dan uang koin kerajaan bernama Brithmaer. Thorgils kemudian menemukan bahwa ternyata Brithmaer berbuat curang dalam memproduksi uang koin yaitu dengan membuat koin palsu. Thorgils berseteru dengan Brithmaer yang membuatnya harus meninggalkan Inggris, pergi jauh dari Aelfgifu sang kekasih hati.

Dari Inggris Thorgils kemudian ikut pelayaran ke Norway, di mana di perjalanan dia bertemu dengan Grettir Asmundarson atau dikenal sebagai Grettir the Strong, seorang kriminal yang sedang menjalani masa hukuman diasingkan dari kampung halamannya di Iceland karena membunuh seorang petani. Grettir adalah seorang yang kasar dan kuat luar biasa, sehingga tidak ada orang yang mau dan bisa berteman dengan dia, kecuali kakak tirinya, Thorstein. Sesampai di Norway Grettir terlibat pembunuhan lagi, dan walaupun dia tidak bersalah Grettir diusir dari Norway oleh King Olaf.

Thorgils yang nyawanya sempat diselamatkan oleh Grettir dalam sebuah perkelahian kemudian berteman dan ikut dengan Grettir kembali ke Iceland walaupun masa hukuman Grettir belum berakhir. Di Iceland Thorgils berkesempatan juga untuk membalas jasa menyelamatkan nyawa Grettir sehingga kemudian Grettir mengangkatnya sebagai sworn brother, saudara yang terikat perjanjian darah (yaitu dengan cara bersalaman dengan telapak tangan yang masing-masing sudah dilukai sampai mengeluarkan darah) sampai mati.

Di Iceland Grettir terlibat pembunuhan lagi dan terpaksa menjadi pelarian lagi dikejar-kejar para musuhnya. Sementara itu Thorgils bertemu mantan guru spiritualnya Thrand (lihat Odinn’s Child) yang ternyata adalah bekas prajurit Jomsviking, pasukan Viking yang terkenal paling berani. Thorgils dan Thrand kemudian berlayar ke Jomsburg, tempat bermukim prajurit Jomsviking yang tersisa. Thorgils mengikuti Thrand menjadi prajurit Jomsviking yang kemudian bergabung dengan pasukan King Knut yang akan berperang dengan para pemberontak Danes. Tetapi ketika para Jomsviking berlayar ke Inggris di tengah jalan para pejuang Jomsviking dikhianati dan dibantai oleh pasukan Danes, semua tewas termasuk Thrand. Thorgils adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian, lagi-lagi berkat bantuan Odinn dewa penolongnya, selamat sampai ke Inggris dan menceritakan kisah pengkhianatan tersebut kepada King Knut sendiri.

Dari Inggris Thorgils kembali ke Iceland dan bertemu Grettir di tempat persembunyiannya di sebuah pulau terpencil. Grettir akhirnya berhasil dibunuh oleh musuhnya Thorbjorn Ongul dengan bantuan kutukan seorang penyihir yang membuatnya terluka dan menjadi sakit dan lemah sehingga mudah untuk dikalahkan.

Setelah Grettir tewas Thorgils memutuskan untuk pergi jauh dari Iceland, tujuannya adalah Miklagard, sebuah kota modern yang luar biasa besar nun jauh di selatan, kota yang juga dikenal sebagai Konstantinopel.

Perjalanan ke Miklagard sama sekali tidak mudah. Rute yang biasa ditempuh orang-orang dari utara adalah melalui jalur perdagangan lewat sungai Dnieper melalui daratan Rusia. Sebelum bisa bertemu dengan para pedagang tersebut Thorgils terlebih dulu pergi ke daerah Permia di Rusia, daerah terpencil yang sangat dingin yang hanya dihuni oleh suku Sabme (Sami), untuk mengumpulkan kulit rusa untuk diperdagangkan. Thorgils ternyata justru memutuskan untuk tinggal sementara dengan suku Sabme, mempelajari budaya mereka, berpindah-pindah pemukiman dari tenda-tenda sampai ke gua-gua, berburu dengan menggunakan ski, bahkan Thorgils jatuh cinta dengan Allba, putri seorang dukun Sabme bernama Rassa. Dari Rassa lah Thorgils banyak belajar tentang suku Sabme dan kepercayaan mereka, bahkan mengalami perjalan spiritual ke alam gaib.

Thorgils akhirnya dengan berat hati harus meninggalkan Alba dan suku Sabme untuk melanjutkan perjalanannya ke Miklagard. Dalam perjalanan tersebut Thorgils bertemu dengan prajurit Varangian, orang- orang Viking yang dijadikan pasukan elit pengawal Emperor di Konstantinopel. Thorgils nyaris terbunuh oleh seorang Varangian dan diselamatkan seorang pedagang Arab untuk kemudian dibawa ke Miklagard. Petualangan Thorgils sebelumnya telah membawanya ke kota-kota besar di utara seperti Dublin, London dan Nidaros, ibukota Norway, tetapi semua tidak ada artinya dibanding Miklagard. Semua yang ada di Miklagard sangat mempesona, mulai dari fenomena air laut selat Bosporus yang arusnya selalu bergerak searah seperti di sungai, panorama yang menakjubkan, sampai istana-istana, menara-menara, kubah-kubah emas dan gedung-gedung yang besar dan indah.

Ship Funeral at Kiev

Ship Funeral at Kiev

Buku kedua Sworn Brother ini tidak kalah menarik (atau mungkin lebih menarik) daripada buku pertama Odinn’s Child dimana petualangan Thorgils Leifsson berlanjut dari tempat-tempat paling terpencil di eropa sampai ke kota-kota besar di jaman abad pertengahan. Perjalanan Thorgils juga membuka wawasan kita akan berbagai kebiasaan, tradisi, kepercayaan dan pekerjaan dari berbagai suku bangsa pada masa itu, mulai dari para penyair di istana-istana, pelatih burung elang di Northampton, pemburu rusa dan beruang berski di Permia, pemakaman prajurit Varangian (ship funeral), sampai pertemuannya dengan pedagang Arab.

Seperti juga dalam Odinn’s Child, di buku kedua ini Thorgils juga diceritakan seringkali bersinggungan dengan  hal-hal yang berbau mistis, seperti ketika Grettir menjadi korban sihir, pembantaian prajurit Jomsviking yang diikuti kemunculan Valkyries, pertemuan Thorgils dengan Rassa dan lain-lain. Di buku ini juga Thorgils makin melihat kenyataan betapa pesatnya perkembangan penganut The White Christ, dimana raja-raja dan bangsawan-bangsawan di England dan Norway makin banyak yang menganut kristen, walaupun rakyatnya masih banyak yang menganut kepercayaan pagan menyembah dewa-dewa Saxon, Viking dan lainnya. Petualangan Thorgils di buku ini bahkan berakhir di tempat yang tidak disangka olehnya yaitu di konstantinopel, pusat kristen dunia.

“…But it was not the magnitude of the place that silenced me, nor its air of solid permanence, for I had carried a wondrous vision of the city in my head ever since Bolli Bollason had sung the praises of Miklagard, and I had promised Grettir to travel in his memory. The reason for my stunned amazement came from something else: the panorama of the city was dominated by a vast assembly of churches and oratories and monasteries, most of them built to a design that I had never seen before — clusters of domes surmounted by the cross-shaped symbol of the White Christ. Many of the domes were covered with gold leaf and glittered in the sunshine. I had totally failed to realise that my destination was the greatest stronghold of the White Christ faith on earth…” 

The Other Boleyn Girl

Other_boleyn_girl_postSebetulnya ini adalah film lama (diproduksi tahun 2008) dan review nya pernah saya posting di multiply, sayangnya situs ini sekarang sudah ditutup. Tetapi tidak ada salahnya untuk re-post karena isi ceritanya sangat menarik dan quite well known, dan untuk ukuran genre historical fiction film ini lumayan sukses dengan pemasukan lebih dari 75 juta dollar US.

The Other Boleyn Girl adalah film yang diadaptasi dari buku best seller dengan judul yang sama karangan Philippa Gregory. Setting cerita adalah tahun 1500-an pada saat Inggris berada di bawah kekuasaan keluarga Tudor, tepatnya di masa Henry VIII. Dibintangi oleh Natalie Portman (Anne Boleyn), Eric Bana (King Henry) dan Scarlett Johansson (Mary Boleyn), film ini bercerita tentang salah skandal paling kontroversial dalam sejarah kerajaan Inggris abad pertengahan, cerita tentang ambisi keluarga Boleyn untuk mendudukkan keturunannya di singgasana tertinggi raja Inggris.

Anne, Mary, dan George adalah 3 bersaudara keluarga bangsawan Boleyn, menghabiskan masa kecilnya bertiga penuh kegembiraan sebagaimana layaknya kakak beradik. Menginjak remaja, Mary lebih dulu dinikahkan dengan Lord William Carey, sementara ketika King Henry berkunjung, Anne disiapkan sebagai alat politik keluarga Boleyn untuk memikat sang raja. Skenario berubah ketika ternyata Henry justru terpikat oleh Mary, si pirang yang lugu dan tulus, yang merawat luka sang Raja setelah terjatuh dari kuda. Anne –  cantik, pintar, dan ambisius – menuduh Mary merayu Henry, yang kemudian menjadi awal persaingan kedua gadis Boleyn memperebutkan cinta sang Raja.

Atas permintaan Henry, Anne dan Mary dibawa ke kerajaan, menjadi gadis kerajaan mendampingi sang Ratu, Queen Katherine of Aragon, Princess of Spain, permaisuri dari King Henry. Saat itu hubungan Henry dan Katherine berada pada masa sulit karena sang Ratu belum berhasil memberikan seorang putra sebagai pewaris kerajaan. Tidak adanya calon pewaris tahta menjadi kekhawatiran seluruh bangsa Inggris karena jika terjadi sesuatu terhadap sang Raja, kemungkinan besar akan terjadi perang saudara seperti yang pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.

Di istana Mary adalah mistress dari King Henry, siap menemani sang Raja kapan pun diminta, sementara Anne hanyalah “the other Boleyn Girl”.  Anne kemudian jatuh cinta dengan pemuda bangsawan terkemuka Henry Percy, bahkan sempat melakukan pertunangan rahasia. Pertunangan itu kemudian menimbulkan kemarahan besar bagi ayah dan paman Anne. Pertunangan dan pernikahan di kerajan adalah masalah politik, it has nothing to do with love. Anne kemudian diasingkan ke Perancis oleh ayah dan pamannya. Anne menuduh Mary yang melaporkan pertunangan tersebut yang membuatnya semakin benci pada saudaranya.

Mary akhirnya mengandung anak Henry, dan ketika saat melahirkan makin dekat keluarga Boleyn khawatir Henry akan “melirik” wanita lain. Untuk mengalihkan Henry dari wanita lain, Anne dipanggil kembali ke Inggris untuk memikat sang Raja selama Mary melahirkan.  Yang terjadi Henry justru benar-benar kepincut dengan Anne, yang menjadi semakin cantik dan pintar setelah belajar di Perancis. Henry bahkan melupakan Mary dan really falling in love with Anne.

Anne menggunakan semua pesonanya tidak hanya untuk menyingkirkan Mary, tetapi juga menggeser Queen Katherine dari singgasana permaisuri. Henry kemudian berhasil dibujuk untuk menganulir pernikahannya dengan Katherine dengan alasan pernikahan tersebut tidak sah karena sebelumnya Katherine pernah menikahi almarhum kakak dari King Henry. Singkat cerita Anne berhasil menyingkirkan Katherine dan menikah dengan Henry serta dinobatkan sebagai Queen of England. Disingkirkannya Queen Katherine mengakibatkan efek yang luar biasa mulai dari kemarahan rakyat, Inggris mengalami excommunicate dari Paus, sampai ancaman diserang oleh Spanyol. Puncak kejadian adalah dipancungnya Thomas More, Lord Chancellor yang merupakan salah satu orang terdekat Henry sendiri, karena menolak penobatan Anne tersebut.

Menduduki singgasana sang Ratu Inggris ternyata tidak membuat Anne tenang karena sebagaimana ratu sebelumnya, posisi Anne pun tidak akan aman tanpa kehadiran putra mahkota. Anne kemudian makin mengalami depresi ketika kemudian hamil dan ternyata “cuma” melahirkan seorang anak perempuan. Sementara itu Mary yang sudah jenuh dengan intrik di istana memutuskan untuk menikah diam-diam dengan William Stafford, seorang “biasa”, dan tinggal di pedesaan. Anne yang frustrasi malah terlibat skandal incest (percintaan dengan saudara sedarah) dengan George. Skandal tersebut dipergoki dan dilaporkan kepada Henry oleh Jane Parker, istri George yang memang seorang yang bertabiat dengki pula. Incest adalah perbuatan yang sangat dicela oleh gereja dan apa yang diperbuat Anne adalah pengkhianatan terhadap raja. Setelah diadili tanpa ampun pengadilan menjauhkan hukuman pancung bagi Anne dan George. Mary yang datang dari desa terlambat untuk menyelamatkan George dari hukuman pancung tapi masih sempat berusaha membujuk Henry untuk membatalkan hukuman terhadap Anne. Bujukan Mary tidak berhasil, hukuman pancung Anne menjadi akhir yang tragis dari film ini.

OBGThe Other Boleyn Girl adalah film yang berusaha menunjukkan realita sejarah di masa itu, di mana wanita banyak dijadikan alat politik keluarga untuk menghasilkan kekayaan dan kejayaan bagi keluarga. Seperti kebanyakan film adaptasi, orang yang pernah baca bukunya kelihatannya akan merasa kecewa dengan film ini, seperti biasa terlalu banyak peyederhanaan, terutama dalam penggambaran karakter dan konflik, yang justru menjadi kekuatan bukunya.

Eric Bana dengan brewok dan postur tinggi besarnya cukup representatif memerankan King Henry, sayangnya menurut Natalie Portman kelihatannya “too cute” untuk memerankan Anne yang mestinya cantik, smart, sensual dan ambisius. Aktris seperti Angelina Jolie, dalam versi yang lebih muda, mestinya lebih cocok memerankan Anne. Scarlett Johannson sendiri is not really my favorite actress. In general, film ini layak ditonton, tapi bukunya much more recommended.

Ada juga mini serie Tudor yang dibintangi oleh Jonathan Rhys-Myers dengan garis beras cerita yang sama dengan The Other Boleyn Girl. Karena bentuknya TV serie, maka alur cerita bisa dibuat lebih detil. Tambahan lagi Rhys-Myers kelihatan sangat pas memerankan King Henry, dengan gayanya yang overconfident, ngotot, kadang genit, dan sesuka hati, cocok dengan citra King Henry yang sesungguhnya. Very recommended.

%d bloggers like this: