Posts Tagged ‘viking’

VIKING : Sworn Brother

sworn brotherSworn Brother adalah buku kedua trilogi Viking karya Tim Severin, melanjutkan kisah petualangan sang putra Odinn, Thorgils Leifsson. Buku pertama Odinn’s Child mengisahkan masa kanak-kanak dan remaja Thorgils dalam petualangannya mempelajari The Old Ways, perjalanannya dari Scotland ke Iceland, menetap di Greenland, ekspedisi ke Vinland di amerika utara, kembali lagi ke Iceland, sampai akhir perjalanannya di Ireland. Dalam buku kedua ini petualangan Thorgils berlanjut ke England, Norway, kembali lagi ke Iceland, kemudian memulai petualangan baru di pedalaman Finlandia, ke Rusia menelusuri sungai Dnieper sampai ke Konstantinopel.

Sworn Brother berawal di London. Thorgils yang dalam bagian akhir dari Odinn’s Child dibuang ke laut di Ireland (sebagai hukuman karena mencuri dari gereja) diselamatkan oleh nelayan dibawa ke Oarkney, Scotland, dan kemudian ikut rombongan penyair sampai ke London. Di London Thorgils terlibat percintaan yang sama sekali tidak main-main, yaitu dengan Aelfgifu, istri raja Inggris King Knut yang luar biasa cantik. Knut adalah keturunan Viking yang menjadi raja di Inggris dengan berhasil menyatukan bangsa Saxon dengan Norsemen (Danes dan Norway). Pernikahan Knut dengan Aelfgifu, putri seorang raja Saxon, adalah juga bertujuan politik untuk mengamankan kerajaannya. Perselingkuhan Thorgils dengan Aelfgifu bisa sangat membahayakan keduanya, sehingga demi untuk menghindari gosip istana akhirnya Thorgils ikut dengan rombongan Aelfgifu ke Northampton. Di sana Thorgils menjadi pelatih burung Spear Falcon, elang pemburu yang hanya hidup di Greenland, kampung halaman Thorgils.

Sekembalinya ke London dari Northampton, tetap untuk menghindari gosip istana, Aelfgifu menempatkan Thorgils di rumah seorang pembuat perhiasan dan uang koin kerajaan bernama Brithmaer. Thorgils kemudian menemukan bahwa ternyata Brithmaer berbuat curang dalam memproduksi uang koin yaitu dengan membuat koin palsu. Thorgils berseteru dengan Brithmaer yang membuatnya harus meninggalkan Inggris, pergi jauh dari Aelfgifu sang kekasih hati.

Dari Inggris Thorgils kemudian ikut pelayaran ke Norway, di mana di perjalanan dia bertemu dengan Grettir Asmundarson atau dikenal sebagai Grettir the Strong, seorang kriminal yang sedang menjalani masa hukuman diasingkan dari kampung halamannya di Iceland karena membunuh seorang petani. Grettir adalah seorang yang kasar dan kuat luar biasa, sehingga tidak ada orang yang mau dan bisa berteman dengan dia, kecuali kakak tirinya, Thorstein. Sesampai di Norway Grettir terlibat pembunuhan lagi, dan walaupun dia tidak bersalah Grettir diusir dari Norway oleh King Olaf.

Thorgils yang nyawanya sempat diselamatkan oleh Grettir dalam sebuah perkelahian kemudian berteman dan ikut dengan Grettir kembali ke Iceland walaupun masa hukuman Grettir belum berakhir. Di Iceland Thorgils berkesempatan juga untuk membalas jasa menyelamatkan nyawa Grettir sehingga kemudian Grettir mengangkatnya sebagai sworn brother, saudara yang terikat perjanjian darah (yaitu dengan cara bersalaman dengan telapak tangan yang masing-masing sudah dilukai sampai mengeluarkan darah) sampai mati.

Di Iceland Grettir terlibat pembunuhan lagi dan terpaksa menjadi pelarian lagi dikejar-kejar para musuhnya. Sementara itu Thorgils bertemu mantan guru spiritualnya Thrand (lihat Odinn’s Child) yang ternyata adalah bekas prajurit Jomsviking, pasukan Viking yang terkenal paling berani. Thorgils dan Thrand kemudian berlayar ke Jomsburg, tempat bermukim prajurit Jomsviking yang tersisa. Thorgils mengikuti Thrand menjadi prajurit Jomsviking yang kemudian bergabung dengan pasukan King Knut yang akan berperang dengan para pemberontak Danes. Tetapi ketika para Jomsviking berlayar ke Inggris di tengah jalan para pejuang Jomsviking dikhianati dan dibantai oleh pasukan Danes, semua tewas termasuk Thrand. Thorgils adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian, lagi-lagi berkat bantuan Odinn dewa penolongnya, selamat sampai ke Inggris dan menceritakan kisah pengkhianatan tersebut kepada King Knut sendiri.

Dari Inggris Thorgils kembali ke Iceland dan bertemu Grettir di tempat persembunyiannya di sebuah pulau terpencil. Grettir akhirnya berhasil dibunuh oleh musuhnya Thorbjorn Ongul dengan bantuan kutukan seorang penyihir yang membuatnya terluka dan menjadi sakit dan lemah sehingga mudah untuk dikalahkan.

Setelah Grettir tewas Thorgils memutuskan untuk pergi jauh dari Iceland, tujuannya adalah Miklagard, sebuah kota modern yang luar biasa besar nun jauh di selatan, kota yang juga dikenal sebagai Konstantinopel.

Perjalanan ke Miklagard sama sekali tidak mudah. Rute yang biasa ditempuh orang-orang dari utara adalah melalui jalur perdagangan lewat sungai Dnieper melalui daratan Rusia. Sebelum bisa bertemu dengan para pedagang tersebut Thorgils terlebih dulu pergi ke daerah Permia di Rusia, daerah terpencil yang sangat dingin yang hanya dihuni oleh suku Sabme (Sami), untuk mengumpulkan kulit rusa untuk diperdagangkan. Thorgils ternyata justru memutuskan untuk tinggal sementara dengan suku Sabme, mempelajari budaya mereka, berpindah-pindah pemukiman dari tenda-tenda sampai ke gua-gua, berburu dengan menggunakan ski, bahkan Thorgils jatuh cinta dengan Allba, putri seorang dukun Sabme bernama Rassa. Dari Rassa lah Thorgils banyak belajar tentang suku Sabme dan kepercayaan mereka, bahkan mengalami perjalan spiritual ke alam gaib.

Thorgils akhirnya dengan berat hati harus meninggalkan Alba dan suku Sabme untuk melanjutkan perjalanannya ke Miklagard. Dalam perjalanan tersebut Thorgils bertemu dengan prajurit Varangian, orang- orang Viking yang dijadikan pasukan elit pengawal Emperor di Konstantinopel. Thorgils nyaris terbunuh oleh seorang Varangian dan diselamatkan seorang pedagang Arab untuk kemudian dibawa ke Miklagard. Petualangan Thorgils sebelumnya telah membawanya ke kota-kota besar di utara seperti Dublin, London dan Nidaros, ibukota Norway, tetapi semua tidak ada artinya dibanding Miklagard. Semua yang ada di Miklagard sangat mempesona, mulai dari fenomena air laut selat Bosporus yang arusnya selalu bergerak searah seperti di sungai, panorama yang menakjubkan, sampai istana-istana, menara-menara, kubah-kubah emas dan gedung-gedung yang besar dan indah.

Ship Funeral at Kiev

Ship Funeral at Kiev

Buku kedua Sworn Brother ini tidak kalah menarik (atau mungkin lebih menarik) daripada buku pertama Odinn’s Child dimana petualangan Thorgils Leifsson berlanjut dari tempat-tempat paling terpencil di eropa sampai ke kota-kota besar di jaman abad pertengahan. Perjalanan Thorgils juga membuka wawasan kita akan berbagai kebiasaan, tradisi, kepercayaan dan pekerjaan dari berbagai suku bangsa pada masa itu, mulai dari para penyair di istana-istana, pelatih burung elang di Northampton, pemburu rusa dan beruang berski di Permia, pemakaman prajurit Varangian (ship funeral), sampai pertemuannya dengan pedagang Arab.

Seperti juga dalam Odinn’s Child, di buku kedua ini Thorgils juga diceritakan seringkali bersinggungan dengan  hal-hal yang berbau mistis, seperti ketika Grettir menjadi korban sihir, pembantaian prajurit Jomsviking yang diikuti kemunculan Valkyries, pertemuan Thorgils dengan Rassa dan lain-lain. Di buku ini juga Thorgils makin melihat kenyataan betapa pesatnya perkembangan penganut The White Christ, dimana raja-raja dan bangsawan-bangsawan di England dan Norway makin banyak yang menganut kristen, walaupun rakyatnya masih banyak yang menganut kepercayaan pagan menyembah dewa-dewa Saxon, Viking dan lainnya. Petualangan Thorgils di buku ini bahkan berakhir di tempat yang tidak disangka olehnya yaitu di konstantinopel, pusat kristen dunia.

“…But it was not the magnitude of the place that silenced me, nor its air of solid permanence, for I had carried a wondrous vision of the city in my head ever since Bolli Bollason had sung the praises of Miklagard, and I had promised Grettir to travel in his memory. The reason for my stunned amazement came from something else: the panorama of the city was dominated by a vast assembly of churches and oratories and monasteries, most of them built to a design that I had never seen before — clusters of domes surmounted by the cross-shaped symbol of the White Christ. Many of the domes were covered with gold leaf and glittered in the sunshine. I had totally failed to realise that my destination was the greatest stronghold of the White Christ faith on earth…” 

VIKING : Odinn’s Child

Odinn's ChildOdinn’s Child adalah buku pertama dari trilogi Viking karya Tim Severin, kisah petualalangan anak muda Thorgils Leifsson menelusuri jati dirinya di bawah bimbingan Odinn, sang mahadewa.

Thorgils lahir tahun 999, hanya beberapa bulan sebelum pergantian milennium di Birsay, sebuah pulau kecil di lepas pantai utara Scotland. Thorgils lahir dari pasangan Leif the Lucky, putra dari Erik the Red sang petualang Viking, dan seorang volva (peramal/pengihir) keturunan Irlandia bernama Thorgunna. Sejak kecil Thorgils tidak pernah mengenal orang tuanya. Ketika bertemu Thorgunna di Birsay, Leif sedang dalam perjalanan dari Greenland ke Norway dan Thorgils lahir ketika ayahnya sudah meninggalkan Thorgunna dan melanjutkan perjalanannya mengantarkan seekor beruang sebagai penghormatan kepada King of Norway.

Thorgils bayi dibawa pergi dari Biscay oleh Thorgunna ke Iceland, di sana Thorgunna mati secara misterius dan kemudian Thorgils yang baru berumur 2 tahun dibawa oleh Gudrid, seorang wanita cantik istri seorang pedagang bernama Thorir, berlayar ke Greenland. Ketika kapal yang dinaiki oleh Gudrid dan Thorir terdampar di Greenland, mereka justru kemudian diselamatkan oleh ayah Thorgils sendiri, Leif the Lucky. Tetapi kemudian Thorgils ditolak di keluarga Leif karena dianggap anak haram dan kemudian dia dibesarkan oleh Gudrid di sebuah perkampungan bernama Brattahlid di Greenland.

Di Greenland saat itu agama kristen sedang berkembang dengan cepat dan mulai mengikis eksistensi dari agama lama, The Old Ways. Sebagai contoh kakek Thorgils sendiri, Erik the Red, adalah seorang pemuja Thor, tetapi istrinya adalah penganut ajaran White Christ, sebutan untuk Yesus. Di Greenland lah Thorgils mulai mengenal Odinn, dewa pengelana yang menjadi inspirasi petualangannya.

Petualangan Thorgils semasa kanak-kanak dan remaja berlanjut ketika dia mengikuti kerabatnya pindah ke sebuah pulau terasing bernama Vinland di Amerika Utara (sekarang di daerah Newfoundland). Di sana mereka bertemu bangsa pribumi Skraeling (nenek moyang bangsa Inuit dan Eskimo) yang akhirnya mengusir mereka dari Vinland.

Map of Erik The RedThorgils kemudian kembali ke Greenland dan kemudian menetap di Iceland bersama pamannya Snorri Godi. Di Iceland inilah Thorgils bertemu dengan guru spritualnya bernama Thrand, seorang warrior dari Jomsvikings, penganut The Old Ways dan pemuja Odinn. Sejak kanak-kanak Thorgils sudah menyadari kemampuannya sebagai seorang Seidr (semacam paranormal) yang dia turunkan dari ibunya, si penyihir Thorgunna. Ketika bersama Thrand lah Thorgils belajar dengan mendalam mengenai kemampuan supranaturalnya, juga tentang Odinn, dan The Old Ways. Di sini lah Thorgils mulai menyadari bahwa semua petualangannya adalah demi mengenal Odinn, si dewa pengelana, yang juga menjadi penunjuk jalan dan penyelamatnya.

Ketika kemudian Thorgils terpaksa terlibat dalam konflik keluarga di Iceland, Thorgils terpaksa harus pergi dan dia memutuskan untuk mencari tahu tentang keluarga ibunya di Scotland. Bukannya berhasil menemukan keluarganya, Thorgils justru terbawa dan terlibat dalam perang antara bangsa Irlandia dalam the Battle of Clontarf. Peperangan yang diakhiri dengan Thorgils menjadi budak tawanan perang.

Kalau terbiasa dengan buku karangan Bernard Cornwell atau Conn Iggulden yang high tempo dan penuh adegan peperangan, mungkin agak sedikit kecewa dengan The Odinn’s Child ini. Cerita di buku ini mengalir lebih lambat, terutama kelihatannya karena Mr. Severin lebih memilih tokoh utamanya seorang yang ‘low profile’, bandingkan misalnya Thorgils seorang pengelana miskin dengan seorang warlord seperti Uhtred of Bebbanburg, panglima perang di Saxon series nya Mr. Cornwell. Walaupun begitu alur cerita trilogi Viking ini tidak kalah menarik, terutama ketika menggambarkan kehidupan bangsa Viking di daerah-daerah terdingin di sudut-sudut Eropa seperti Iceland dan Greenland, pulau-pulau dengan kehidupan yang berat yang justru akhirnya melahirkan para pejuang dan petualang tangguh.

Battle of Clontarf

Battle of Clontarf, oil on canvas painting by Hugh Frazer, 1826, Isaacs Art Center

Thorgils, putra dari Leif the Lucky dan Thorgunna bukanlah tokoh fiktif. Di dalam Saga of Erik the Red, kisah tentang perjalanan Erik the Red menemukan benua amerika, Thorgils disebutkan datang ke Greenland dan diakui sebagai anak oleh Leif. Kisah Thorgils ini memang banyak diilhami oleh kisah-kisah legendaris petualangan bangsa Viking seperti Saga of Erik the Red, Saga of the Icelandic, and Saga of Greenlanders. Tokoh-tokoh historis yang muncul di buku ini selain Erik dan putranya Leif ada juga Bjarni Herjolfsson, Thorfinn Karlsefni, dan High King of Ireland Brian Boruma yang terbunuh dalam the Battle of Contarf.

Menarik juga melihat bagaimana perjuangan para penganut The Old Ways mempertahankan agamanya terhadap ekspansi dari ajaran The White Christ. Di bagian akhir Thorgils mendapatkan kesimpulan bahwa sesungguhnya The Old Ways tidak akan pernah hilang, melainkan diadopsi oleh ajaran White Christ  seperti yang didengar Thorgils dari Eochaid, seorang mantan biarawan pengelana yang menjadi gurunya di Ireland:

“The priests and monks build cleverly on well-laid foundations, ‘Samhain, our Festival of the Dead, becomes the eve of their All Saints’ Day; Beltane, which for us is the reawakening of life and celebrated with new fire, is turned into Easter even with the lighting of their Paschal Fire; our Brigid the exalted one, of whom I am a particular adherent, for she brings healing, poetry and learning, has been transmuted into a Christian saint. The list goes on and on. Sometimes I wonder if this means that the Old Ways are really still flourishing beneath the surface, and I could have stayed a monk and still worshipped the Gods in a different guise…”

Viking, raiders from the north

Currently reading The Whale Road by Robert Low, satu lagi cerita tentang viking. Sudah tahu? banyak orang menyangka Viking adalah nama suku di daerah Skandinavia.Sebetulnya Viking lebih merupakan kata kerja, yaitu perbuatan menjarah (raid) pemukiman sepanjang pesisir pantai yang dilakukan dari laut oleh bangsa2 skandinavia (Norsemen) seperti Danes, Norway dan Sweden. Mereka berangkat dari tanah asalnya yang beku di utara untuk menjarah daerah2 yang lebih subur seperti England, France, Scotland, dan Ireland, perjalanan mereka bahkan sampai Byzantine di Selatan dan daratan Amerika di barat, ratusan tahun sebelum Columbus.

Bangsa2 Norsemen tidak berhenti sampai menjarah saja, tetapi juga invasi dan menetap di daerah-daerah tersebut, sehingga bahkan ada saatnya di abad pertengahan di Eropa di mana hampir seluruh Inggris Raya dan sebagian Perancis berada di bawah kekuasaan raja-raja Viking.

The Burning Land

The Burning Land adalah buku kelima dari The saxon Chronicles karangan Bernard Cornwell, melanjutkan kisah petualangan Uhtred sejak dari The Last Kingdom, The Pale Horsemen, The Lords of The North, dan Sword Song.

BurningLandDalam buku-buku sebelumnya cerita berfokus pada Uhtred, seorang Saxon dari keluarga tuan tanah di Bebbanburg, Northrumbria, Inggris utara berbatasan dengan Skotlandia, yang sejak bocah melihat tanah kelahirannya diinvasi oleh bangsa Viking dari Denmark (The Danes), ayah dan kakaknya dicincang, dan Uhtred sendiri karena keberaniannya justru ditangkap dan kemudian dibesarkan oleh bangsa Danes. Uhtred dibesarkan sebagai seorang Viking, belajar ilmu pedang dan menjadi seorang Viking Warrior.

Ketika wilayah-wilayah Inggris Saxon yang lainnya yaitu Mercia dan East Anglia dengan cepat jatuh ke tangan Danes, maka yang tersisa tinggallah Wessex di Inggris Selatan. Uhtred yang dibesarkan oleh bangsa Danes justru kemudian berbalik memihak Saxon menyusul dibunuhnya ayah angkatnya Ragnar oleh sesama bangsa Danes. Nasib mempertemukan Uhtred dengan Alfred, King of Wessex, harapan terakhir bangsa Saxon. Nasib juga yang membuat Uhtred terpaksa bersumpah setia kepada Alfred walaupun sesungguhnya Uhtred tidak menyukai dan banyak bermasalah dengan Alfred.

Kemenangan demi kemenangan membawa Uhtred menjadi seorang Warlord, jendral Saxon kepercayaan Alfred. Di bawah komando Uhtred, Wessex yang tadinya terancam oleh invasi Danes justru berhasil mengusir bangsa Danes dari tanah Wessex, bahkan bangsa Saxon berhasil merebut London, kota penting di tepi sungai Thames yang berbatasan dengan wilayah Mercia, East Anglia dan Wessex. Demikian pula Mercia akhirnya berada di bawah kekuasaan Alfred setelah menikahkan putrinya Aetheflaed dengan Aethelred, seorang bangsawan Mercia.

Pada buku kelima ini diceritakan awalnya Uhtred menetap di London memimpin garnisun penjaga kota London, sementara itu wilayah Wessex mendapat ancaman serangan besar-besaran dari bangsa Viking yang dipimpin oleh Harald Bloodhair. Uhtred yang masih terikat sumpah dengan Alfred kemudian dipanggil untuk mempertahankan Wessex. Dengan strategi yang tepat, Uhtred memimpin bangsa Saxon yang kalah jumlah untuk mengalahkan Harald Bloodhair dalam pertempuran bersejarah di Farnham. Kemenangan yang luar biasa itu sayangnya terganggu berita buruk dari London, istri Uhtred meninggal dunia ketika melahirkan anaknya.

Ketika kembali ke London, Uhtred terlibat perselisihan dengan Bishop Asser, penasehat kepercayaan Alfred, yang menghina mendiang istri Uhtred. Perselisihan tersebut berujung dengan tewasnya seorang pendeta ditangan Uhtred, yang kemudian dinyatakan bersalah dan harus menerima hukuman dari Alfred. Uhtred yang sudah muak dengan Alfred memutuskan untuk melarikan diri dari London bersama anak buahnya yang masih setia.

Seperti juga dalam buku-buku sebelumnya, The Burning Land masih dihiasi konflik menarik antara Uhtred dan Alfred yang berbeda pandangan dalam banyak hal, terutama masalah agama. Uhtred adalah seorang pagan, dibesarkan sebagai seorang warrior oleh bangsa Viking dan memuja dewa-dewa Viking terutama Thor. Sementara itu King Alfred adalah seorang kristen yang taat, sama sekali bukan warrior, dan semua keputusannya selalu berdasarkan pertimbangan spiritual. Perbedaan ini yang membuat Uhtred sebetulnya tidak cocok dan ingin secepatnya meninggalkan Alfred untuk kembali ke tanah kelahirannya di Bebbanburg, tetapi sumpahnya membuat dia harus tetap setia kepada Alfred.

Perselisihan dengan Asser di London menjadi klimaks yang membuat Uhtred tidak tahan dan akhirnya pergi meninggalkan Alfred. Uhtred pergi ke Northrumbia dan bertemu dengan saudara tirinya Ragnar Ragnarsson, putra kandung Ragnar, seorang Danes. Ragnar bersedia membantu Uhtred merebut kembali Bebbanburg, tetapi untuk itu Uhtred harus memiliki emas yang banyak untuk dapat merekrut para warrior menjadi pengikutnya. Dalam usahanya mencari emas itu, Uhtred berlayar sampai kepulauan Frisia (sekarang Belanda) untuk merebut persediaan emas di markas perompak terkenal bernama Skirmir.

Walaupun berhasil mengalahkan Skirmir, emas yang didapat ternyata sangat sedikit dan tidak cukup untuk membiayai perang merebut Bebbanburg. Uhtred akhirnya setuju untuk membantu Ragnar menyerbu Wessex, berperang melawan Alfred yang sudah sakit-sakitan cukup parah. Ekspedisi menyerang Wessex ini menjadi ekspedisi besar-besaran karena didukung oleh para penguasa bangsa Danes lainnya seperti Cnut dan Sigfrid, tetapi terutama juga karena dukungan Jarl Haesten, seorang pemimipin bangsa Danes yang culas yang dalam waktu bersamaan akan menyerang Mercia. Haesten sebelumnya adalah musuh bebuyutan Uhtred, tetapi kini bersatu untuk menyerang Wessex dan Mercia

Kombinasi serangan Ragnar dari laut ke Wessex dan daratan Mercia oleh Haesten akan sangat mematikan buat Alfred, ditambah lagi Uhtred sekarang berada di pihak lawan. Tetapi pada saat-saat terakhir Uhtred mendapat kunjungan dari seorang utusan Aethlflaed, putri Alfred yang menjadi istri Aethelred, penguasa Mercia. Utusan tersebut mengingatkan walaupun Uhtred sudah tidak mau terikat sumpah dengan Alfred, tetapi dia pernah bersumpah (oath bound) kepada Aethelflaed, dan sekarang dia meminta Uhtred memenuhi sumpahnya untuk melindungi Aethelflaed dan Mercia dari serangan Haesten.

Fate is inexorable. Nasib memang tidak bisa dihindari. Uhtred yang tadinya siap berperang melawan Alfred, akhirnya harus kembali ke sisi Alfred berpihak kepada bangsa Saxon melawan serbuan bangsa Danes yang dipimpin oleh musuh bebuyutannya Haesten dan saudara tirinya Ragnar. Mampukah Uhtred kembali membawa kemenangan untuk Alfred dan bangsa Saxon? Silakan nikmati dalam buku The Burning Land ini.

The Burning Land makin mengukuhkan Bernard Cornwell sebagai master dalam historical fiction. Salah satu kehebatannya adalah kemampuannya untuk menyatukan tokoh fiksi seperti Uhtred dengan tokoh historis seperti King Alfred dengan penggambaran karakter yang sangat detil dan segala konflik antara dua pribadi yang bertolak belakang. Alfred disebut-sebut sebagai pemersatu dan pendiri kerajaan Inggris. Ketika Alfred meninggal, Inggris memang masih terbagi dalam 4 kerajaan besar yaitu Wessex, Mercia, East Anglia, dan Northrumbria, dengan sebagian besar masih di bawah kekuasaan Danes. Tetapi Alfred lah yang pertama memperkenalkan istilah England untuk daratan yang dihuni oleh bangsa Anglo dan Saxon tersebut. Alfred pula yang memulai usaha-usaha untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang terpisah tersebut dan mengusir Danes dari daratan Inggris.

Akhir kata The Burning Land dan buku-buku lain dalam The Saxon Chronicles sangat direkomendasikan untuk dibaca, bukan hanya untuk menikmati serunya cerita perjuangan bangsa Saxon, tetapi terlebih lagi memperkaya pengetahuan kita akan kelahiran bangsa Inggris, bangsa yang nantinya menjadi penguasa dunia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: